Dalam perkembangan awalnya, seseorang yang mengalami kondisi ini menjadi terikat dengan penculiknya dan mungkin mengalami perasaan cinta, empati, atau keinginan untuk melindungi penculiknya.
Orang yang disandera atau korban kekerasan juga sering mengembangkan perasaan negatif terhadap polisi atau pihak lain yang mencoba menyelamatkannya. Dari studi peristiwa ini, para peneliti menyimpulkan penyebab untuk menjelaskan fenomena tersebut.
Seseorang yang mengembangkan sindrom ini sering mengalami gejala stres pasca trauma, mimpi buruk, insomnia, kilas balik peristiwa, kecenderungan untuk mudah terkejut, kebingungan, dan kesulitan mempercayai orang lain.
Dari perspektif psikologis, fenomena ini bisa dipahami sebagai mekanisme bertahan hidup. Bahkan, dalam situasi penyanderaan, korban bisa bertindak seolah-olah mereka mengalami Stockholm syndrome untuk meningkatkan peluang bertahan hidup. Demikian seperti dirangkum dari berbagai sumber, Senin (5/9/2022).
BACA JUGA:Mengenal Sindrom Tourette yang Viral Serang Gadis Palembang
BACA JUGA: Sindrom Cutis Laxa Membuat Daffa Miliki Kulit Kendur Seperti Orang Tua
(Rizky Pradita Ananda)