Disebutkan lebih lanjut, situasi seperti ini terjadi akibat naluri alami manusia untuk bertahan hidup, sehingga dia pun membangun ikatan emosional dengan musuhnya. Kondisi emosional tertentu yang membuat korban kekerasan mengingat sedikit kebaikan yang pernah dilakukan oleh pelakujuga bisa membuat korban memiliki empati kepada penjahat tersebut.
Stockholm syndrome diketahui biasanya dialami oleh korban penculikan, korban pemerkosaan berulang, penyanderaan, tetapi orang biasa juga bisa mengembangkan kondisi psikologis ini.
Orang biasa yang mengalami kondisi ini besar kemungkinan pernah mengalami trauma. Jadi, saat dirinya melihat ada peristiwa kejahatan yang terjadi, misalnya lewat tayangan media, seketika itu juga ia mengalami kilas balik traumanya dan merasa empati dengan pelaku kejahatan tersebut.
Lantas apakah Sindrom Stockholm ini termasuk dalam diagnosis psikologis? Well, nyatanya Sindrom Stockholm bukan diagnosis psikologis. Melainkan upaya untuk menjelaskan gejala yang muncul pada beberapa orang yang menjadi korban kekerasan terutama penyanderaan.