TERNYATA terdapat mitos tentang penyakit stroke. Bahkan ada yang menyakini mitos kalau merokok tidak akan berpengaruh terhadap risiko terkena stroke.
Lalu apa saja sih mitos stroke yang sebaiknya jangan dipercaya lagi. Simak yuk!
1. Mitos: Penyakit stroke banyak menyerang usia tua
Pada umumnya penderita stroke dialami oleh seseorang berusia 60 tahun ke atas. Tapi malah saat ini ada pergeseran tren penyakit yang diidap oleh orang-orang muda. Seseorang berusia 20-an sudah banyak yang kena stroke, apalagi yang memiliki faktor risiko obesitas dan hipertensi.
2. Mitos: Stroke terjadi di jantung
Banyak yang mengira stroke terjadi pada di Jantungnya. Faktanya "Stroke terjadi di otak," kata Ahli Saraf Dr Rybinnik.
Saraf sel-sel otak, yang disebut neuron, memerlukan aliran darah dan nutrisi dan oksigen dalam darah untuk bertahan hidup dan fungsi. Jika suplai darah ke neuron di otak terputus karena gumpalan darah atau penyakit pembuluh darah, saraf akan mati dan jadilah penyakit stroke.
3. Mitos: Stroke tidak dapat dicegah
Anggapan stroke tidak dapat dicegah adalah salah. Salah satu yang terbesar studi pada stroke, 90% penyakit ini muncul diawali dengan faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan obesitas. Semua itu dapat dicegah dengan menjalani gaya hidup sehat, seperti mengatur pola makan, tidak merokok, rajin olahraga dan aktivitas, serta beberapa hal penting lainnya.
4. Mitos: Stroke tidak dapat diobati
Faktanya sebagian besar dari stroke iskemik, yang disebabkan oleh gumpalan darah dapat diobati. Rybinnik menjelaskan, pasiennya harus menjalankan beberapa pengobatan seperti operasi, fisioterapi, atau hal lainnya yang menguntungkan seorang pasien. Semua metode pengobatan seharusnya sesuai persetujuan medis supaya tidak berisiko fatal.
BACA JUGA:Alami Stroke, Apa Saja Kemampuan yang Harus Dipulihkan? Ini Jawabannya
5. Mitos: Stroke adalah selalu sakit kepala
Faktanya, hanya sekira 30 persen orang akan memiliki sakit kepala. Padahal Gejala yang paling umum dari stroke termasuk mendadak timbulnya kelemahan gerak penglihatan ganda, linglung, kurangnya koordinasi gerak, dan sulit bicara. Jika pasien mendadak alami gejala tersebut sebenarnya bisa dibantu dengan metode FAST, yang menolong pasien.