KERATON Ngayogyakarto Hadiningrat untuk ketiga kalinya meniadakan tradisi Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Tapa Bisu Mubeng Beteng pada malam 1 Suro.
Panitia hanya menggelar doa bersama dan Macapat di dalam keraton dalam rangka menyambut malam pergantian tahun kali ini.
Bicara soal malam 1 Suro, terdapat beberapa tradisi yang lazim dilakukan masyarakat Jawa, termasuk salah satunya Mubeng Beteng. Lantas, apa itu Mubeng Beteng?
Mengutip dari laman Jogya.com, tradisi Mubeng Beteng merupakan tapa bisu yang dilakukan oleh Abdi Dalem Keraton Yogyakarta setiap malam 1 Suro sebagaimana penanggalan kalender Jawa.
Tapa bisu ini dilakukan berjalan kaki mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta saat malam hari tanpa berbicara alias membiasu dan tidak mengenakan alas kaki. Tradisi Mubeng Beteng dengan Tapa Bisu digagas oleh Sultan Agung, Raja Mataram Islam pertama.
Bukan semata-mata tradisi, namun ritual ini juga bertujuan menjaga atau mengamankan lingkungan Keraton. Lazimnya tradisi Mubeng Beteng dilakoni dari sisi kiri atau barat keraton.
Terdapat nilai filosofi tersendiri dalam tradisi ini. Berjalan dari kiri atau kiwo dilakukan dengan harapan tradisi ini Ngiwake (mengkirikan) atau membuang hal-hal buruk.
Akan tetapi, ada kalanya tradisi ini diawali dari arah Timur Keraton Yogyakarta atau berlawanan arah jarum jam.
Sebelumnya, Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat melalui akin Instagram @kratonjogja menyampaikan bahwa tradisi Tapa Bisu Mubeng Beteng dalam rangka menyambut 1 Suro kembali ditiadakan, lantaran masih dalam situasi pandemi Covid-19 meski sebenarnya sudah relatif melandai.