SEORANG wanita mendadak viral usai melahirkan di pantai lepas, tepatnya di Playa Majagual, Nikaragua, pada 27 Februari 2022. Proses persalinan terekam kamera dan terlihat di sana tak ada bantuan medis sama sekali.
Kemunculan video viral ini kemudian memicu para ahli berkomentar. Kellie Wilton, kepala bidan di Australian College of Midwives dan Sue Kildea seorang profesor kebidanan dari Universitas Charles Darwin.
Mereka beranggapan bahwa keputusan si wanita melahirkan di pantai lepas bukan pilihan yang tepat. Sebab, itu amat berisiko, terlebih tanpa ada pengawasan tim medis di dekatnya.
"Menurut saya, melahirkan di pantai lepas tanpa bantuan medis bukanlah keputusan yang bijaksana," terang Kildea, dikutip dari News.au, Rabu (8/6/2022).
Ia melanjutkan, bidan melalui pendidikannya memungkinkan para wanita melahirkan dengan aman dan mampu mengenali tanda-tanda yang mungkin akan membahayakan si ibu atau bayinya, dan dia dibekali ilmu untuk mengatasi masalah tersebut.
"Nah, dukungan bidan seperti itu tidak akan didapatkan jika seorang wanita memutuskan untuk melahirkan secara bebas di alam terbuka," tegasnya.
Lebih lanjut, Wilton menerangkan bahwa melahirkan di air sejatinya pilihan yang sangat aman, tapi harus dibantu atau diawasi oleh tenaga medis untuk mendukung dan memfasilitasi kebutuhan si ibu.
"Lahiran di dalam air dipercaya memberi manfaat menurunkan rasa sakit yang signifikan, tapi, harus dilakukan di bawah pengawasan ahli, tidak bisa dilakukan sendirian," ungkap Wilton.
Persalinan di dalam air yang dilakukan wanita viral itu, lanjut Wilton, sangat berbahaya. Kalaupun mau melahirkan di dalam air, banyak prosedur yang harus disiapkan.
"Persalinan di dalam air yang ideal itu melibatkan bidan dan tenaga medis lainnya di dekat si ibu, suhu air diatur dengan sangat baik, kebersihan air dipastikan berkualitas, bahkan kondisi kesehatan si ibu dan bayi terus diperhatikan selama persalinan," jelas Wilton.
Terkait hal itu, wanita viral bernama Josy Peukert memberi pernyataan pembelaan bahwa dirinya melahirkan di siang hari. Ia beranggapan, di momen itu air pantai sedang hangat, 35 derajat celcius.
"Saya melahirkan Bodhi, nama bayinya, di bawah sinar matahari langsung tengah hari bolong ketika suhu 35 derajat celcius. Saya tidak khawatir Bodhi akan kedinginan karena kondisinya demikian," kata Peukert.
BACA JUGA : Viral Penjual Kopi Cantik Mirip Wika Salim, Netizen: Bikin Betah di Warung, Adem Pikiran
Nah, bicara soal air asin, Wilton mengatakan bahwa amat sangat berisiko jika bayi baru lahir langsung menelan air asin.
"Melahirkan di pantai bebas memiliki risiko bayi meminum air asin laut secara tidak sengaja dan ini membahayakan kesehatan si bayi. Kemudian, air pantai itu tetap terlalu dingin untuk melahirkan, itu bisa membuat bayi hipotermia," tegas Wilton.
BACA JUGA : Viral! Netizen Makan Sampai Rp350 Juta, Kok Bisa?
Selain itu, karena airnya tidak terkontrol dengan baik, tidak ada yang bisa menjamin apakah air laut tersebut bebas bakteri berbahaya atau tidak. Artinya, keburukan lebih banyak daripada manfaatnya.
"Manfaat water birth memang ada, tapi pasangan yang memutuskan untuk melahirkan dengan teknik tersebut harus teredukasi dengan baik. Tidak bisa membenarkan bahwa melahirkan di pantai lepas adalah hal yang tepat," kata Wilton.
Meski, tambah Wilton, pada akhirnya perempuan punya hak untuk bebas memilih cara persalinan seperti apa yang diinginkannya, tapi demi kebaikan si ibu ataupun bayi yang dikandung, tentu pertimbangan keselamatan perlu diprioritaskan.