Minum Banyak Cairan
Sebagian besar infeksi Salmonella dapat bertahan selama 4-7 hari. Namun, tidak jarang pula gejala infeksi hilang sendirinya tanpa pengobatan.
Diare dan muntah merupakan gejala infeksi Salmonella (salmonelosis) yang paling umum. Kondisi yang juga dikenal sebagai flu perut alias gastroenteritis ini disebabkan infeksi Salmonella yang memicu peradangan dinding saluran pencernaan, terutama lambung dan usus.
Gejala ini dapat muncul sekitar 6-72 jam setelah anak terinfeksi bakteri Salmonella. Gastroenteritis menyebabkan tubuh si kecil kekurangan banyak cairan dan elektrolit. Akibatnya, anak yang terjangkit salmonelosis juga mengalami gejala dehidrasi (kekurangan cairan), berupa pusing, sulit berkonsentrasi, hingga mulut dan tenggorokan kering.
Untuk memastikan kebutuhan cairannya terpenuhi, anak harus diberikan asupan air putih yang banyak. Menurut WebMD, asupan cairan yang direkomendasikan sekitar 2-3 liter atau setara 8-12 cangkir air sehari.
Istirahat
Kekurangan banyak cairan bisa menyebabkan si kecil menjadi lemas. Guna memulihkan kondisinya secara perlahan, anak dianjurkan beristirahat.
Istirahat bermanfaat membantu meningkatkan daya tahan tubuh si kecil ketika berjuang melawan infeksi Salmonella.
Hindari Makanan yang Memperburuk Gejala Infeksi
Penting bagi orangtua untuk memberikan asupan makanan dan minuman yang dapat mendukung proses penyembuhan si kecil. Makanan yang dianjurkan dikonsumsi adalah nasi putih, daging ayam tanpa kulit, sup kentang, air kelapa, dan yoghurt.
Sebaliknya, jangan berikan anak asupan yang dapat memperburuk gejala diare akibat infeksi Salmonella, seperti buah dan sayuran mentah, makanan pedas, kubis, kacang polong, kopi, atau soda.
Jangan Gunakan Antibiotik Kecuali Atas Izin Dokter
Kendati Salmonella adalah sejenis bakteri, infeksi mikroorganisme ini tidak serta merta dapat diatasi menggunakan antibiotik. Sebuah studi yang dimuat Clinical Microbiology Reviews mengungkapkan, penggunaan antibiotik secara berlebih justru dapat menyebabkan resistensi Salmonella terhadap antibiotik. Dampak resistensi antibiotik ini dapat meningkatkan risiko infeksi kembali.