6. Surga yang hilang di Pulau Papua
Negeri Papua juga sudah dikenal oleh para penjelajah mancanegara dengan berbagai nama yang berbeda. Sekitar tahun 200 M, Ptolemy menyebutnya sebagai Labadios, dan akhir tahun 600 M kerajaan Sriwijaya menyebutnya sebagai Janggi.
Tidore memberi nama PAPA-UA untuk pulau ini beserta penduduknya yang selanjutnya berubah menjadi Papua. Pada tahun 1545, Inigo Ortiz de Retes menyebutnya Nueva Guinee dan pelaut lain menyebutnya Isla Del Oro atau Pulau Emas. Sementara itu, Robin Osborne dalam buku Indonesia’s Secret War: The Guerilla Struggle in Irian Jaya menyebut Papua sebagai surga yang hilang.
Papua sudah dikenal akan keindahan alamnya sejak zaman dulu. Pada abad ke-18 Masehi, penguasa kerajaan Sriwijaya mengirimkan persembahan kepada kerajaan China yang diantaranya terdapat burung Cenderawasih. Burung asli Papua ini dipercaya sebagai burung dari taman surga.
Papua sering kali disebut sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi. Bagaimana tidak, keanekaragaman hayati yang tersisa di bumi saat ini banyak ditemukan di pulau ini.
(Foto: Unsplash)
Bahkan ketika tim survei yang terdiri dari penjelajah Amerika, Indonesia, dan Australia melakukan peninjauan di daerah pegunungan Foja, di Papua pada tahun 2006, mereka menemukan tempat ajaib yang mereka namakan ‘dunia yang hilang’ dan ‘Taman Firdaus di bumi’. Yang membuat takjub adalah puluhan jenis burung, kupu-kupu, katak, dan tanaman yang belum pernah tercatat dalam sejarah.
Bukan hanya keindahan alamnya saja, tanah Papua juga kaya akan tembaga dan emas yang melimpah. Yang paling terkenal adalah produksi emasnya yang terbesar di dunia dan berbagai tambang kekayaan alam lainnya.
7. Maluku surganya rempah-rempah
Maluku merupakan kawasan yang terdiri dari sekumpulan pulau kecil dan kerajaan-kerajaan kecil. Orang Belanda menyebut daerah Maluku sebagai ‘the three golden from east’ atau tiga emas dari Timur untuk Ternate, Banda dan Ambon.
Sebelum kedatangan Belanda, seorang penulis dan tabib Portugis Tome Pires sudah menulis tentang Ternate, Ambon dan Banda sebagai pulau rempah-rempah dalam bukunya, ‘Summa Oriental’.
Sekitar 4.000 ribu tahun lampau di kerajaan Mesir, data arkeolog menjelaskan tentang transaksi Mesir yang mengimpor dupa, kayu eboni, kemenyan, dan gading dari daratan misterius bernama ‘Punt’.