Ditambahkan Sekretaris Forum Nelayan Desa Bandengan Nursalim, para nelayan di desa ini sangat beragam. Ada nelayan besar yang menggunakan kapal besar dengan jumlah ABK 10-15 orang dan ada kapal kecil dengan jumlah ABK 2-3 orang.
"Kapal besar digunakan untuk menangkap ikan hingga 10 ton. Ikan yang biasanya ditangkap nelayan adalah teri, kembung, barakuda, dan ikan-iklan lainnya," terangnya
Sedangkan kapal kecil, sambungnya, biasa digunakan untuk menangkap rajungan dengan total muatan mencapai 1 kuintal. Sayangnya, selama melaut tentu butuh biaya besar.
Nursalim menjelaskan, biaya melaut para nelayan juga membutuhkan dana yang lumayan, dalam satu hari untuk memenuhi kebutuhan solar, makan dan keperluan melaut lainnya bisa menghabiskan Rp200 ribu hingga Rp800 ribu. Di lain hal, nelayan juga harus memperhatikan kondisi kapal agar laik laut, layak melakukan pelayaran.
Salah satunya melalui pengecatan berkala untuk melindungi kapal dari korosi dan menghambat tumbuhnya lumut. Di masa pandemi ini mereka merasa keberatan karena pendapatan tidak menentu, tapi harus merawat kapal.
Perwakilan Nippon Paint Indonesia Topan Wijaksono mengatakan, untuk mengecat kapal membutuhkan cat sintetis enamel yang dapat diaplikasikan pada berbagai subtract kayu dan besi baik interior maupun eksterior. Tentu harganya tidak murah dan para nelayan membutuhkan donasi. Di samping itu para nelayan njuga membutuhkan cat pelapis yang tahan sinar matahari agar kapal kayu atau besi jadi awet.
“Dengan dukungan donasi melalui pengecatan kapal nelayan, diharapkan dapat menjadi stimulan demi keberlangsungan kegiatan perekonomian bagi para nelayan hingga di masa mendatang,” ujar Topan.
(Helmi Ade Saputra)