Curahan Hati Nelayan Bertahan Hidup saat Pandemi

Helmi Ade Saputra, Jurnalis
Selasa 08 Maret 2022 16:30 WIB
Nelayan Indonesia. (Foto: Instagram)
Share :

NASIB nelayan di masa pandemi ini juga ikut-ikut memprihatinkan. Kapal mereka pun jadi rusak dan butuh perbaikan agar bisa melaut lagi.

Berbagai upaya untuk meredakan penularan Covid-19 dengan penerapan level PPKM tentu berpengaruh pada kegiatan nelayan. Seperti yang dirasakan para nelayan di Desa Bandengan, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Desa Bandengan sebagai desa pesisir mayoritas warganya berprofesi sebagai nelayan. Kepala Desa Bandengan, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon Nining Suningsih mengatakan, hampir 90% warga Desa Bandengan adalah nelayan.

 BACA JUGA:Dari Jaga Berat Badan hingga Jantung, Ini 4 Manfaat Ikan Salmon

"Kehidupan warga ini sangat bergantung pada hasil tangkapan laut. Kalau lagi Musim Barat, para nelayan itu melaut di perairan Kabupaten Cirebon. Tapi, biasanya ramainya tangkapan hasil laut itu hanya sekitar 1 sampai 2 minggu."

 

"Nanti, kalau musim Timur atau timuran, biasanya di bulan 7 sampai 10 ini, para nelayan Desa Bandengan melaut ke Jakarta dan Cilacap," kata wanita yang akrab disapa Kuwu Nining ini.

Ditambahkan Sekretaris Forum Nelayan Desa Bandengan Nursalim, para nelayan di desa ini sangat beragam. Ada nelayan besar yang menggunakan kapal besar dengan jumlah ABK 10-15 orang dan ada kapal kecil dengan jumlah ABK 2-3 orang.

"Kapal besar digunakan untuk menangkap ikan hingga 10 ton. Ikan yang biasanya ditangkap nelayan adalah teri, kembung, barakuda, dan ikan-iklan lainnya," terangnya

Sedangkan kapal kecil, sambungnya, biasa digunakan untuk menangkap rajungan dengan total muatan mencapai 1 kuintal. Sayangnya, selama melaut tentu butuh biaya besar.

Nursalim menjelaskan, biaya melaut para nelayan juga membutuhkan dana yang lumayan, dalam satu hari untuk memenuhi kebutuhan solar, makan dan keperluan melaut lainnya bisa menghabiskan Rp200 ribu hingga Rp800 ribu. Di lain hal, nelayan juga harus memperhatikan kondisi kapal agar laik laut, layak melakukan pelayaran.

Salah satunya melalui pengecatan berkala untuk melindungi kapal dari korosi dan menghambat tumbuhnya lumut. Di masa pandemi ini mereka merasa keberatan karena pendapatan tidak menentu, tapi harus merawat kapal.

Perwakilan Nippon Paint Indonesia Topan Wijaksono mengatakan, untuk mengecat kapal membutuhkan cat sintetis enamel yang dapat diaplikasikan pada berbagai subtract kayu dan besi baik interior maupun eksterior. Tentu harganya tidak murah dan para nelayan membutuhkan donasi. Di samping itu para nelayan njuga membutuhkan cat pelapis yang tahan sinar matahari agar kapal kayu atau besi jadi awet.

“Dengan dukungan donasi melalui pengecatan kapal nelayan, diharapkan dapat menjadi stimulan demi keberlangsungan kegiatan perekonomian bagi para nelayan hingga di masa mendatang,” ujar Topan.

(Helmi Ade Saputra)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya