Menghadapi cuaca yang tidak bisa ditebak dan hampir enggak ada bandara darurat, membuat penerbangan ini menjadi nahas. Belum lagi mereka juga harus menghadapi serangan tiba-tiba dari Jepang. Semua bahaya itu membuat jalur ini dikenal sebagai jalur maut. Dalam kurun waktu 42 bulan, ada sekitar 594 pesawat jatuh dan kurang lebih dari 1.659 hilang di pegunungan dan mereka tidak pernah bisa ditemukan lagi.
Sebagian besar kehilangan ini disebabkan oleh bahaya yang dihadapi pilot dan bukan disebabkan oleh aksi dari musuh. Untungnya, dalam penerbangan modern, dataran tinggi Tibet telah dibuka secara bertahap dalam beberapa dekade setelah Perang Dunia II. Bandara pertama di Tibet dibuat pada 1956.
Jadi, jika terkadang ada pesawat melintasi daerah Tibet memang benar, tapi untuk penerbangan internasional, pilot tetap akan menjauhi wilayah ini.
Setidaknya, ada 3 alasan mengapa dunia penerbangan modern masih menghindari wilayah ini.
1. Keadaan darurat
Tinggi rata-rata dataran tinggi Tibet adalah lebih dari 14.000 kaki, dan maskapai biasanya melintasi dalam ketinggian 30 ribu kaki. Dalam keadaan normal memang tidak masalah, tapi dalam keadaan darurat seperti kerusakan mesin, protokol keselamatan maskapai biasanya mengharuskan pesawat turun ke jarak 10 ribu kaki. Risikonya, mereka hanya akan menabrak gunung di ketinggian 14 ribu kaki.
2. Tidak ada orang yang tinggal di wilayah tersebut
Karena wilayah tersebut tidak berpenduduk, makanya tidak ada permintaan penerbangan yang besar ke wilayah tersebut. Penerbangan internasional jarak jauh antara Eropa dan Asia akan menghindari terbang di atas Tibet karena mereka tidak ingin mengambil risiko mengalami keadaan darurat.
3. Turbulensi yang buruk serta risiko bahan bakar yang bisa membeku
Saat angin kencang bergerak melewati dataran tinggi dan pegunungan, angin akan bergerak menyerupai gelombang. Jika ada pesawat melintas melewati gelombang angin ini, maka turbulensi akan menjadi sangat berguncang yang bisa memicu situasi darurat terjadi. Dan akhirnya, masalah terjadi pada bahan bakar pesawat.
Secara teori, bahan bakar akan membeku jika temperatur mencapai angka di bawah -40 derajat. Kondisi cuaca dingin yang ekstrem itu jarang sekali terjadi saat pesawat sedang terbang. Tapi, temperatur udara di atas dataran tinggi Tibet memang sangat dingin dan bisa mencapai angka tersebut bahkan bisa lebih buruk lagi.
(Kurniawati Hasjanah)