SEORANG pendeta Nigeria mengumpulkan dan menyelamatkan ratusan artefak keagamaan pra-Kristen di Nigeria Tenggara, yang rencananya akan dibakar oleh orang-orang yang baru memeluk agama Kristen.
Pastor Paul Obayi sedang melakukan kurasi artefak keagamaan tradisional. Artefak itu rencananya akan dibakar oleh orang-orang yang baru memeluk agama Kristen, karena benda-benda tersebut kini mereka anggap sebagai berhala.
Di antara koleksi tersebut terdapat ukiran dewa-dewa dan topeng berhala. Beberapa di antaranya ada yang berumur lebih dari satu abad dan dianggap penting bagi agama yang dianut masyarakat Igbo sebelum mereka memeluk Kristen. Mereka meyakini benda-benda tersebut sakral dan memiliki kekuatan supernatural.
Baca jug: Dari Spanyol hingga Filipina, Begini Tradisi Perayaan Paskah di Seluruh Dunia
Pastor Obayi mengatakan ia menyimpan berbagai benda itu di sebuah museum di kompleks Katedral Santa Theresa, untuk melestarikan warisan budaya lokal.
Museum itu, yang berada di halaman gereja Katolik, memiliki ratusan ukiran dewa dan topeng, yang penting bagi agama tradisional yang dipraktikkan oleh masyarakat Igbo, yang meyakini benda-benda itu keramat.
“Kita dapat menggunakannya sebagai artefak, dapat menggunakannya sebagai latar belakang budaya, jadi sekadar untuk mengingatkan kita bahwa ini adalah artefak budaya dan tak lebih dari itu, lalu orang-orang akan datang dan melihat, ‘oh ini yang dianggap leluhur kami sebagai dewa.’ Mereka akan melihatnya dengan antusias," kata Obayi.
Obayi mendatangi kota-kota di bagian tenggara Nigeria atas undangan keluarga-keluarga yang tidak lagi menginginkan dewa-dewa leluhur mereka dan meyakini bahwa benda tersebutlah yang menjadi penyebab kegagalan dalam hidup mereka.
Baca juga: Arkeolog Temukan Artefak Kapak Perimbas dari Batu Gamping di Goa Pawon
Baru-baru ini ia berada di tengah sebuah komunitas di negara bagian Enugu atas undangan dua keluarga. Seorang di antaranya adalah perempuan yang menyatakan dewa-dewa leluhur mereka adalah penyebab ia tidak dapat hamil lagi setelah melahirkan anak pertama dengan operasi Caesar. Seorang lainnya adalah laki-laki yang menyatakan keluarganya hingga ke generasi ketiganya menderita.
Lelaki itu dengan bercucuran air mata mengatakan demikian kepada Obayi.
''Mulai dari anak-anak kami hingga cucu kami, tampaknya tidak ada yang berhasil, bahkan juga kerabat jauh kami. Kami ingin Tuhan menyelamatkan kami.”