Ini termasuk di antara langkah paling drastis dari pembatasan perjalanan yang diberlakukan negara-negara di seluruh dunia sewaktu berupaya memperlambat penyebaran varian ini. Para ilmuwan di beberapa tempat – mulai dari Hong Kong hingga Eropa dan Amerika Utara – telah mengukuhkan keberadaan varian baru ini. Belanda melaporkan 13 kasus omicron pada Minggu (28/11), Kanada dan Australia melaporkan masing-masing dua kasus.
Dengan memperhatikan bahwa varian baru ini telah dideteksi di banyak negara dan bahwa penutupan perbatasan kerap memiliki efek terbatas, Organisasi Kesehatan Dunia menyerukan agar perbatasan tetap terbuka.
Dr. Francis Collins, Direktur Institut Kesehatan Nasional AS, menekankan bahwa belum ada data yang menunjukkan varian baru ini menyebabkan sakit yang serius dibandingkan dengan varian-varian COVID-19 sebelumnya.
“Saya berpikir ini lebih mudah menular sewaktu melihat betapa cepatnya ini menyebar di banyak distrik di Afrika Selatan. Varian ini memiliki ciri khusus kemungkinan mudah menyebar dari satu orang ke orang lain. Yang belum kami ketahui adalah apakah varian ini menyaingi varian delta,” kata Collins dalam acara di televisi CNN, “State of the Union.”
Collins menggaungkan pendapat beberapa pakar yang menyatakan kabar ini seharusnya membuat semua orang melipatgandakan upaya mereka untuk menggunakan perangkat yang sudah dimiliki dunia, yang mencakup vaksinasi, suntikan booster dan langkah-langkah seperti mengenakan masker.
“Saya tahu, Amerika, kalian sudah lelah mendengar hal-hal ini, tetapi virus tidak bosan dengan kita,” ujarnya.
(Salman Mardira)