Dia mengungkapkan, bahwa hingga kini belum diketahui pasti bagaimana karakteristiknya. Pasalnya masih dalam proses studi.
“Kita belum bisa mengetahui apakah berbagai jenis varian delta ini memiliki karakteristik khusus yang dapat mempengaruhi laju penularan, keparahan gejala maupun vaksinasi. Karena studi terkait hal tersebut masih berlangsung,” tuturnya.
Menambahkan, epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menyebut gejala corona varian delta plus kemungkinan tak berbeda dengan varian lain Covid-19 yang lebih dulu terdeteksi. Gejala umum yang timbul, misalnya batuk dan pilek, pada varian delta plus disebut terlihat lebih jelas dan intensitas waktunya lebih lama.
"Gejalanya semua varian hampir sama cuma seperti delta atau kappa atau delta plus ini demam batuknya mungkin bisa lebih lama, tidak berhenti-berhenti. Manifestasi gejala klinisnya lebih jelas tapi memang tidak berbeda dengan varian lainnya. Hanya lebih jelas. Kemungkinan Delta Plus seperti itu," jelasnya.
Meski demikian, disebutkan dari Moscow Times, Ilmuwan Senior, Kamil Khafizov memperkirakan varian AY.4.2 memiliki kemampuan 10 persen lebih menular daripada varian Delta. Sebagai diketahui varian Delta adalah jenis yang paling dominan dari gelombang keempat yang terjadi di Rusia.
(Martin Bagya Kertiyasa)