SETELAH pemerintah menurunkan harga PCR dan sempat mewajibkan PCR untuk perjalanan udara, timbul banyak pertanyaan pada masyarakat. Harga PCR yang dulunya jutaan, sekarang turun hingga Rp275 ribu di Pulau Jawa, dan Rp300 ribu di luar Jawa.
Tentu saja penurunan harga tes PCR ini menarik perhatian masyarakat. Tentu saja, layanan tes PCR dengan harga yang paling murah banyak diburu oleh masyarakat.
Menanggapi hal tersebut Pakar Kesehatan sekaligus Dokter Relawan Covid-19, dr. Muhamad Fajri Adda’I menjelaskan bahwa masyarakat harus paham dan mengerti mengenai manfaat tes PCR ini. Jangan sampai hanya mengutamakan masalah harga saja sehingga berpotensi mengabaikan kemanjurannya.
“Perlu diperhatikan bahwa PCR kan kemampuan genostik, alat untuk menemukan suatu penyakit atau virus sebagai penyebab penyakit. Ketika harganya murah atau perlu dipress atau lain sebagainya dan tidak diiringi dengan kajian yang tepat bisa jadi nanti kualitasnya berkurang,” terang dr. Fajri, kepada MNC Portal, Rabu (10/11/2021).
Penurunan harga yang murah tanpa kajian yang benar dikhawatirkan berpotensi menurunkan kualitas alat, pemeriksaan, maupun maintenancenya. Oleh sebab itu, ada baiknya untuk meminta keterangan tentang isu PCR ini kepada pembuat regulator dan otoritas yang mengawasi dan membina. Tujuannya untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan tes ini dapat berjalan dengan baik.
“Murah boleh tapi jangan murahan dan jangan abal-abal. Harus tetap valid dan reliable. Valid itu adalah tepat sesuai dengan kondisi aslinya sementara reliable itu ketika diulang memiliki hasil yang sama. Itu adalah tanda ciri alat diagnostic test yang baik,” tuntasnya.