Setrika Payudara, Cara Aneh Ibu di Afrika Lindungi Anak Gadisnya dari Pelecehan Seksual

Nindi Widya Wati, Jurnalis
Jum'at 29 Oktober 2021 15:04 WIB
Seorang gadis Afrika alami trauma menjalani tradisi setrika payudara (Foto: Reuters)
Share :

BAGI kebanyakan gadis, permulaan pubertas adalah masa yang penuh warna. Tetapi bagi anak perempuan yang turut menjalankan tradisi menyeterika payudara, masa remaja dapat berubah menjadi awal penderitaan karena praktik tradisional ini.

Tradisi setrika payudara umum terjadi di Afrika Barat dan Tengah, termasuk Guinea-Bissau, Chad, Togo, Benin, Guinea-Conakry, Pantai Gading, Kenya, dan Zimbabwe.

Terlebih di wilayah Kamerun menyeterika payudara adalah hal sangat lazim, bahkan jumlah anak perempuan yang menjadi sasaran penyetrikaan payudara diperkirakan mencapai sekitar 1,3 juta orang.

Menurut data PBB, sekitar 3,8 juta remaja di seluruh dunia telah terkena dampak tradisi perataan payudara. Diperkirakan sekitar 1.000 anak perempuan dari komunitas Afrika Barat di seluruh Inggris telah menjadi sasaran praktik tersebut, tetapi angkanya bisa jauh lebih tinggi.

Praktik ini mencerminkan keyakinan dan nilai misoginis yang buruk yang mendukung praktik kekerasan lainnya. Hal ini pada akhirnya mencerminkan dinamika kekuasaan yang menuntut ketundukan perempuan dan kontrol penuh atas seksualitas perempuan dan anak perempuan.

Baca juga: Ritual Seks Nyeleneh Suku Mangaia, Remaja 13 Tahun ML dengan Wanita Lebih Tua


(Foto: Reuters)

Ketika anak perempuan mulai menunjukkan tanda-tanda pubertas, para ibu mulai "menyetrika" payudara mereka. Menggunakan alat yang dipanaskan seperti batu, spatula, dan alu untuk menumbuk atau memijat dada mereka, dalam upaya mencegah payudara berkembang. Untuk mencegah payudara anak perempuan tumbuh, para ibu juga dapat membungkus dada anak perempuan mereka dengan perban .

Meski menyetrika payudara dimaksudkan untuk melindungi anak perempuan dari dorongan seksual yang tidak diinginkan, namun praktik tersebut dapat menimbulkan trauma fisik dan emosional.

"Setiap pagi, sebelum pergi ke sekolah, ibu mengangkat atasan saya untuk memastikan agar saya tidak melepas perban saya," kata seorang gadis Kamerun berusia 14 tahun kepada fotografer Prancis Gildas Paré, melansir globalcitizen.org.

"Sudah dua tahun sekarang dan dia masih memeriksanya setiap hari. Ini memalukan. Saya ingin dia berhenti," tambahnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya