SELAMA pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini, ancaman akan penyakit lain, sejatinya tak bisa diabaikan.
Salah satunya penyakit demensia, yang bahkan diprediksikan oleh Badan Kesehatan Dunia jumlah pengidapnya akan melonjak tajam kurang dari 10 tahun dari sekarang.
Dari keterangan WHO pada Kamis 2 September kemarin, tercatat saat ini lebih dari 55 juta orang di seluruh dunia hidup dengan demensia. Tak main-main, penyakit gangguan neurologis yang berpengaruh pada daya ingat seseorang ini diketahui telah merugikan dunia secara finansial.
Dengan populasi manusia yang semakin menua, mengutip Reuters, Jumat (3/9/2021) dalam laporan WHO disebutkan bahwa jumlah pengidap penyakit progresif yang dipicu oleh stroke, cedera otak atau penyakit Alzheimer ini diproyeksikan meningkat menjadi 78 juta orang pada tahun 2030 dan 139 juta pada tahun 2050, atau melonjak hingga 40 persen.
“Demensia merampas jutaan ingatan orang, kemandirian, dan martabat mereka, tetapi juga merampas orang-orang yang kita kenal dan cintai," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.
Sejauh ini diketahui hanya satu dari empat negara di dunia yang memiliki kebijakan nasional yang menyokong pengidap demensia dan keluarga pengidap.