Perfeksionis demi Batik Sempurna
Widia tidak bisa menjawab berapa modalnya membuat satu batik karena dia "tak menghitungnya".
"Untuk menjaga kualitas, kami tidak menghitung biaya. Contohnya pada saat pewarnaan dengan lima gram [obat pewarna], kami menghasilkan warna merah. Namun, ternyata merahnya bukan seperti yang saya kehendaki. Maka saya akan membuang obat pertama itu dan menggantikan dengan obat yang kedua."
"Itu kan mengeluarkan biaya lagi. Tapi, saya enggak menghitungnya," ujar Widia.
Lima tahun lalu, misalnya, setelah membuat sebuah kain batik pesanan selama tiga tahun, ia tak puas dengan hasilnya. Ia sampai menangis karena kecewa.
"Anak saya malah mengiranya saya kenapa-kenapa. Saya sudah memberikan janji ke pelanggan yang mau memakai kain itu bulan depannya.
"Ternyata hasilnya di luar harapan dan itu karena kebodohan saya," ujar Widia.
Ia memutuskan untuk mengubah warna kain itu. Pesanan pun dibatalkan dan ia tak meminta pelanggan mengganti ongkos kerjanya.
Dalam satu waktu, ia bahkan pernah menghabiskan hingga sepuluh tahun untuk satu kain karena ia terus menyempurnakan karyanya.
Yohannes Somawiharja mengatakan memang ada banyak batik peranakan di Indonesia, tapi Batik Oey punya tempat spesial di kalangan pencinta batik.
"Orang-orang pencinta batik peranakan tulis halus mengakui batik ini paling halus. Ini disebabkan mereka sangat perfeksionis dan disiplin dalam menjaga kualitas."
Sebelumnya dalam bukunya 'Batik: Fabled Cloth of Java', jurnalis foto dan desainer Amerika Inger McCabe Elliott menyebut Batik Oey Soe Tjoen sebagai batik terbaik di Jawa.