Layaknya Covid-19, Adakah Rapid Test untuk TBC?

Antara, Jurnalis
Kamis 24 Juni 2021 15:47 WIB
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
Share :

SAMPAI saat ini masih ada pemahaman yang salah di masyarakat, yang mengira tuberkolusis (TBC) tidak bisa disembuhkan. Padahal, TBC masih bisa disembuhkan meskipun melewati pengobatan yang cukup lama.

Tidak heran, jika kemudian pasien yang memliki ekonomi bawah tidak berobat atau malas kontrol karena dianggap mengeluarkan banyak biaya. Selain itu, yang juga menghambat pengobatan adalah stigma dan diskriminasi yang dialami pasien.

Tuberkolusis sendiri adalah penyakit menular yang disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis dan memberikan dampak besar terhadap pasien serta keluarganya. Melihat dampak yang besar dari penyakit ini, akan lebih baik jika ada deteksi dini TBC seperti tes rapid yang sekarang diterapkan untuk mendeteksi Covid-19 di era pandemi?

"Teorinya bisa, tapi belum direkomendasikan oleh WHO karena tingkat akurasinya belum bagus," kata Kepala Subdit Tuberkulosis Kementerian Kesehatan Imran Pambudi.

Indonesia masuk dalam delapan negara di dunia yang menyumbang dua pertiga kasus TBC global. Indonesia ada di posisi kedua setelah India dengan estimasi kasus 845.000 dengan kematian 98.000 per tahun.

Dari estimasi kasus tersebut, sebagian belum diketahui karena tidak ternotifikasi maupun tidak terdeteksi. Pasien yang tidak ternotifikasi adalah mereka yang sudah mengakses layanan kesehatan, namun belum masuk ke dalam sistem catatan pelaporan. "Sebagian besar di swasta, maka kita harus tegakkan aturan pelaporan," katanya.

Pada kasus-kasus yang belum terdeteksi, akan ada investigasi bila ada laporan mengenai kasus tuberkolusis. Akan ada kunjungan ke rumah pasien dan anamnesis serta pemeriksaan menyeluruh bila ada gejala-gejala TBC.

Pandemi Covid-19 menjadi tantangan dalam penanggulangan TBC. Menurut studi yang dilakukan oleh Stop TB Partnership bersama dengan Imperial College London, Avenir Health, Johns Hopkins University dan USAID, menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 telah menyebabkan kemunduran capaian program TBC di seluruh dunia ke tingkatan lima hingga delapan tahun ke belakang.

Secara global, lockdown tiga bulan dan masa pemulihan 10 bulan dapat menyebabkan tambahan 6,3 juta kasus TBC tahun 2020 dan 2025, dan tambahan 1,4 juta kematian akibat TBC dalam kurun waktu sekarang.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya