KEIKUTSERTAAN perempuan di beberapa bidang pekerjaan yang dianggap maskulin memang sudah biasa kita lihat. Banyak perempuan sudah terjun di bidang politik atau pemerintahan.
Bahkan, beberapa perempuan juga bekerja menjadi supir ojek, hingga supir truk. Tapi sayangnya, walau sekilas perempuan jaman sekarang makin banyak yang bekerja, namun secara kuantitas, angka partisipasi angkatan kerja perempuan masih jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Bintang Puspayoga menyebut, menurut data dari BPS tahun 2020 tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan, pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan yang berperspektif gender, hanya di angka 53,13 persen jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki di angka 82,4 persen.
"Kaum perempuan mengalami banyak kesulitan untuk memulai, mempertahankan dan mengembangkan usaha dibandingkan laki-laki," jelasnya dalam gelaran Rapat Koordinasi Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA), Selasa (8/6/2021),
Contohnya mulai dari karena norma gender yang diskriminatif, kurangnya kesempatan mengembangkan keterampilan, keterbatasan akses modal, tingginya berbagai pekerjaan, pengasuhan tak berbayar yang mengurangi waktu, kurangnya literasi soal keuangan dan digital sampai karena kebijakan-kebijakan yang tak ramah gender.
(Martin Bagya Kertiyasa)