“Belum tentu berkaitan. Kenapa? Karena pertama, ini adalah penyuntikan yang kedua. Kalau dia alergi berat misalnya harusnya yang pertama dia sudah (reaksi). Timingnya memang pas, jadi kesannya berhubungan tapi belum tentu,” jelas dia.
Selain itu, sejauh ini juga belum ada data dari uji klinis dan KIPI yang menyatakan bahwa vaksin Covid-19 menyebabkan kelumpuhan. “Data KIPI KIPI sebelumnya, dari sekian juta orang, di negara manapun, itu belum ada data timbul kelumpuhan,” kata dr Fajri.
Untuk mengetahui apakah itu berhubungan dengan vaksin atau karena faktor lain, diperlukan segala rangkaian penelitian kepada orang yang bersangkutan. Mulai dari mengecek kronologi hingga riwayat penyakit.
“Idealnya kalau mau dicek, kita harus tahu kronologinya, riwayat orang tersebut bagaimana, gejalanya, keluhannya, riwayat penyakit sebelumnya, keluarganya ada nggak sakit sakit tertentu. Lalu lihat perjalanan penyakitnya, dicek semuanya, nanti darahnya dicek, dan lain-lain,” ujarnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)