BARU-BARU ini beredar sebuah unggahan di media sosial Instagram yang menyatakan bahwa WHO menyebut test PCR Covid-19 berbasis jumlah ambang batas atau Ct yang selama ini telah dilakukan, ternyata memiliki hasil yang cacat.
Dalam unggahan di Instagram, akun bernama Rippedgymarchive menambahkan bahwa estimasi pasien yang terdeteksi positif melalui tes ini, dan lockdown yang telah dilaksanakan, adalah sebuah kekeliruan yang tidak berdasar.
Namun setelah dilakukan penelusuran, klaim ini ternyata hoaks. WHO sampai hari ini tidak pernah menyatakan bahwa tes PCR merupakan tes yang cacat dan sama sekali tidak menjadi penentu seseorang dinyatakan positif Covid-19 atau tidak.
Melansir Covid19.go.id dari media FullFact, tes positif dengan nilai Ct tinggi mungkin menunjukkan jumlah RNA virus terdeteksi yang sangat kecil pada pemeriksaan awal mereka, dan mungkin tidak menular atau sedang mengalami infeksi aktif.
Namun, ada skenario klinis lain yang menunjukkan bahwa nilai Ct tinggi pada seseorang, masih memungkinkan untuk dapat menularkan atau yang mungkin segera menjadi menular.
Tes PCR terkadang dapat menunjukkan bahwa seseorang tidak tertular virus ketika mereka terinfeksi (negatif palsu). Mereka juga dapat menunjukkan bahwa seseorang terkena virus padahal tidak (positif palsu).