"Misalnya di Danau Toba ada Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Batang Gadis. Di Borobudur ada Taman Nasional Gunung Merapi dan Taman Nasional Gunung Merbabu. Di Lombok Mandalika ada Taman Nasional Gunung Rinjani, Taman Nasional Gunung Tambora, Taman Wisata Alam Gunung Tunak. Di Likupang ada Taman Nasional Bunaken. Di Labuan Bajo ada Taman Nasional Komodo dan Taman Nasional Kelimutu," papar Sandi.
Dirinya menambahkan, jumlah kunjungan ke daerah wisata alam ini bisa jutaan, data terakhir sebelum Covid-19 bisa mencapai 10 juta pengunjung.
Kemenparekraf menginginkan pola perjalanan dari ekspedisi wisata berbasis konservasi ini bisa mampu meningkatkan kemampuan inovasi dan adaptasi.
Baca juga: Sandiaga Uno Janji Bantu Kembangkan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sulbar
"Terutama ini ada peta perjalanan Three Link Volcano in Tropical Archipelago, dari Jakarta ke Bandung, dari Bandung ke Gunung Merapi dan Gunung Semeru, Gunung Kelud, Gunung Batur, Gunung Agung, Gunung Ijen, Gunung Tambora, dan Gunung Rinjani. Ini yang menurut saya sangat potensi untuk dikembangkan," ungkap mantan Wagub DKI Jakarta ini.
Pihaknya kata Sandi, merekomendasikan model manajemen kolaborasi dalam pengelolaan agar melibatkan kedua belah pihak dan status kawasan konservasi taman nasional atau TWA menjadi daya tarik wisata dan destinasi pariwisata nasional terutama terkait aspek visitor management, dan carrying capacity dalam bingkai kualitas dan pariwisata berkelanjutan.
"Juga penerapan assessment, monitoring, observasi, sertifikasi, modeling, dan prototipe dari Pariwisata yang berkelanjutan. Kami sepakat membentuk tim kecil, yang menjadi PIC Pak Frans Teguh, semoga membawa langkah dan hasil yang kongkrit untuk pariwisata berbasis konservasi dan tentunya harus berkualitas dan berkelanjutan," tutupnya.
(Rizka Diputra)