Pramugari enggak suka minum dari tap qater pesawat
Evrin mengungkapkan, pramugari selalu meminum air berkemasan botol. Padahal, air botolan yang disediakan untuk awak kabin jumlahnya terbatas. Pramugari juga tidak mau minum teh atau kopi karena air yang digunakan berasal dari tap water.
Air yang berasal dari tap water sebenarnya bisa diminum, namun mereka tidak mau karena mereka tidak tau kapan terakhir filternya diganti dan tangkinya dibersihkan.
Saat tiba di bandara, pesawat biasanya hanya parkir selama kurang lebih satu jam. Dalam satu jam itu, pesawat akan dicek kondisi mesinya, dibersihkan interiornya, isi bensin, mengganti makanan sebelumnya dengan makanan yang baru, dan proses keluar-masuk penumpang. Mantan pramugari tersebut merasa petugas tidak akan memiliki waktu untuk mengganti filter tap water.
Pramugari mengamati penumpang yang minum alkohol
Pramugari selalu bertukar informasi sehabis menyuguhkan alkohol pada penumpang. Mereka bersama-sama menghitung dan mengingat berapa banyak gelas alkohol yang sudah dikonsumsi oleh penumpang tersebut.
Hal itu dilakukan agar pramugari bisa mengontrol penumpang. Mereka tidak mau sampai ada penumpang yang mabuk dalam penerbangan dan membuat penumpang lain tidak nyaman.
“Di darat dan di udara itu, toleransi alkohol setiap orang itu pasti berubah. Jadi, misalnya kamu di darat, kamu biasanya di darat minum wine lima gelas gakpapa, tapi kalau di udara itu kamu mungkin udah berasa pusing,” kata Evrin.
Perubahan toleransi terjadi karena tekanan udara di penerbangan akan mempengaruhi pernapasan. Jadi, tingkat oksigen yang ada di darah pun akan menurun. Itu kenapa penumpang akan lebih cepat merasa pusing dan mabuk.
(Dewi Kurniasari)