“Waktu itu saya ngobrol dengan mereka, dan ternyata rata-rata sudah remote working selama kurang lebih 3 bulan di destinasi masing-masing. This is new potential. Saya sendiri sekarang merasakan sensasi untuk berkantor di Bali. Saya punya kantor kecil tapi view-nya enak banget,” jelas Sandiaga.
Melihat potensi tersebut, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu mengaku pihaknya akan segera mencari formula guna menarik lebih banyak lagi digital nomad. Salah satunya berkolaborasi dan berinovasi dengan sejumlah stakeholders pariwisata, termasuk politeknik pariwisata (poltekpar).
Baca juga: Menparekraf Gandeng Kadin Kembangkan 5 Destinasi Super Prioritas
“Kita harus mulai berinovasi karena mereka (digital nomad) harus diberikan satu produk wisata dan akses pada sektor ekonomi kreatif. Ini yang kita berikan challenge (tantangan) kepada poltekpar untuk menciptakan keunggulan-keunggulan sehingga perubahan preferensi wisatawan yang sekarang banyak menjadi wisatawan digital nomad, tak hanya bisa kita antisipasi tapi juga fasilitasi,” terangnya.
“Saya juga berharap ke depannya tidak hanya destinasi-destinasi mainstream saja yang dapat disambangi para digital nomad. Desa wisata juga harus jadi destinasi tujuan mereka, selama didukung jaringan interkoneksi yang baik. Ini akan menjadi peluang yang besar dan kita akan terus buat terobosan-terobosan baru,” tutupnya.
(Rizka Diputra)