Melestarikan Gerabah Peninggalan Leluhur Sentani

Edy Siswanto, Jurnalis
Selasa 13 Oktober 2020 07:04 WIB
Gerabah karya warga Desa Abar, Sentani, Papua (Foto: Edy Siswanto/Okezone.com)
Share :

Hari Suroto mengaku jika motif-motif gerabah masa lalu itu kini dicoba untuk dilestarikan. Mulai dari motif ikan ciri khas situs Tutari dan motif-motif lainnya. Dikatakan, hal ini dilakukan atas tanggungjawab melestarikan budaya leluhur dengan tujuan pembangunan berkelanjutan.

"Penerapan motif-motif megalitik Tutari pada gerabah abar merupakan bagian dari kontribusi hasil penelitian arkeologi pada sustainable development goals atau tujuan pembangunan berkelanjutan. Motif megalitik Tutari harus dilestarikan sekaligus harus mensejahterakan masyarakat sekitar Danau Sentani, yaitu sebagai sumber inspirasi dalam produk seni Sentani kekinian terutama produk ekonomi kreatif," kata Hari.

Merujuk penggunaannya sebagai wadah memasak atau tempat makanan. Gerabah yang kini dilestarikan seperti gerabah Pulau Abar, dikerjakan secara tradisional oleh kaum perempuan Abar. Gerabah dibuat menggunakan tanah liat dan dibentuk sederhana menyerupai mangkuk atau disebut sampe dalam bahasa setempat. Sampe kemudian diberi motif ikan atau motif lainnya di bagian luar gerabah lalu dibakar secara sederhana.

(Foto: Edy Siswanto/Okezone.com)

"Saat ini di Kampung Abar merupakan satu-satunya kampung di Papua yang masyarakatnya masih eksis membuat gerabah. Ini patut kita syukuri dan ini merupakan upaya pelestarian budaya Sentani. Hampir semua nama-nama Abar bisa membuat gerabah. Dan mereka sangat terampil," kata Hari.

Atas keterampilan mama-mama Abar lah eksistensi gerabah tetap terjaga. Pihak Balai Arkeologi Papua berkolaborasi bersama guru-guru jenjang SMP di Kota dan Kabupaten bersama para pengrajin telah berhasil membuat buku Muatan Lokal (Mulok). Buku ini kemudian telah diajarkan di tiga sekolah pilot project yaitu SMP Negeri 1 Sentani, SMP Negeri 2 Sentani dan SMP Negeri 6 Kota Jayapura.

"Ini langkah kita untuk pelestarian budaya leluhur Sentani. Jadi dengan buku Muatan Lokal, anak-anak generasi penerus ini tahu budayanya. Kita juga berencana mendatangkan pengrajin Gerabah ke Kantor Balai Arkeologi Rabu 14 Oktober 2020 untuk memberikan pelatihan membuat gerabah Abar,"kata Hari.

Sementara, Mama Barbalina Elbakoi atau yang karib disapa Mama Barbie, adalah salah satu pengrajin gerabah yang masih eksis hingga saat ini. Kepada awak media, ia menyebut kemahirannya membuat gerabah berkat ajaran sang ibu sejak kecil.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya