Penilaian sendiri dilakukan di 9 negara yaitu Banglades, Kamboja, India, Indonesia, Mongolia (RRC), Myanmar, Nepal, Filipina, dan Sri Lanka. Temuan ini dituangkan dalam laporan berjudul 'Unmasking the Impact of COVID-19 on Asia's Most Vulnerable Children'.
Lantas, apa yang disampaikan Roslinda kepada PBB?
"Kami sedih karena selama pandemi tidak bisa bertemu teman-teman. Setelah belajar di rumah, kalau menemui hal sulit tidak bisa langsung bertanya pada guru seperti kalau di sekolah. Bagi anak-anak yang pendidikan orangtuanya minim, maka akan semakin kesulitan," terangnya melalui keterangan tertulis yang diterima Okezone, belum lama ini.
Anak perempuan yang biasa disapa Oslin itu melanjutkan, untuk belajar di rumah pun banyak anak-anak membutuhkan jaringan internet yang stabil dan juga telepon seluler.
"Tapi, penghasilan orangtua kami menurun. Kami juga diharuskan rajin mencuci tangan, tetapi tidak semua daerah memiliki akses air bersih," keluhnya.