Cerita Penyintas Covid-19, Sempat Takut hingga Dapat Stigma Negatif

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis
Jum'at 09 Oktober 2020 20:07 WIB
Ilustrasi (Foto : Medicaldaily)
Share :

Virus corona Covid-19 yang melanda seluruh dunia membawa dampak yang sangat besar bagi manusia. Tak hanya menimbulkan beban kesehatan, pandemi Covid-19 juga membawa dampak pada kesehatan mental manusia. Salah satu penyintas Covid-19, Albert Ade pun membagikan pengalaman suka dukanya sejak dinyatakan positif terinfeksi.

Ia mengaku mengetahui dirinya mengidap Covid-19 pada malam hari setelah melakukan pemeriksaan di kantor. Ia pun lantas memberi tahu keluarganya di rumah dan langsung melakukan isolasi mandiri untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit.

“Istri, saya kabarin dan kita saling menguatkan karena posisinya kita tidak bisa apa, jadi pasrah saja terima saja begitu. Yang saya pikirkan besok mau dirawat di mana,” terang Ade, siaran langsung di channel YouTube BNPB TV, Jumat (9/10/2020).

Ade tak memungkiri bahwa dirinya sempat mengalami ketakutan setelah dinyatakan positif Covid-19. Awalnya ia mencoba menolak diri sendiri. Sebab gejala yang dialaminya mirip dengan Demam Berdarah (DBD) jadi ia berusaha berpikir bahwa ia mengidap DBD. Tapi saat tahu penyakitnya adalah Covid-19 pikirannya pun mendadak kosong.

“Jadi saya langsung hubungi keluarga di rumah. Karena saya melakukan isolasi mandiri, yang saya pikirkan apakah harus memberitahu tempat saya menginap. Sebenarnya mengaku (positif Covid-19) tidak masalah, lebih baik orang tahu, karena lebih gampang tracingnya. Jadi keluarga dan teman yang kontak erat dekat dengan saya tracingnya lebih mudah,” lanjutnya.

Baca Juga : IDI: Klaster Demo Akan Picu Lonjakan Kasus Covid-19

Selain itu Ade juga mengaku pernah mendapatkan stigma negatif dari masyarakat setelah diketahui positif Covid-19. Usai berkomunikasi dengan pihak RT yang ada di kompleks, ada warga yang merasa ketakutan. Jadi beberapa rumah yang ada di perumahan tersebut disemprot desinfektan untuk mencegah penularan penyakit.

“Kita sih wajar mereka ketakutan. Karena saya tidak bersosialisasi dengan mereka, tapi saya mencoba menjelaskan karena saya pulang dini hari sehingga kemungkinan menyebarkan penyakit cukup kecil. Tapi sempat sih saya merasa ketakutan karena stigma tersebut. Sementara di kantor melakukan sistem tracing untuk mengetahui klaster, jadi semua karyawan melakukan swab. Tapi stigma di kantor masih bisa ditolerir lah, meski memang ada ketakutan,” tuntasnya.

(Helmi Ade Saputra)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya