Pariwisata Bali Terpuruk Akibat Covid-19, Rumput Laut Menyelamatkan Warga

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Jum'at 18 September 2020 13:29 WIB
Pantai Geger, Nusa Dua, Bali (Instagram @staziatravel)
Share :

Nihil pekerjaan, Sulitra yang sebelum pandemi bisa mendulang sampai ratusan juta rupiah per bulan itu pun kembali membudidayakan rumput laut. Padahal dia sudah meninggalkan komoditas ini lebih dari 20 tahun sejak memilih fokus bekerja di pariwisata.

"Saya tidak malu. Penghasilan sekarang nol. Akan nol sama sekali kalau tidak ada rumput laut. Untungnya ada rumput laut," kata Sulitra.

Dengan modal Rp15 juta, dia membeli 450 tali bibit rumput laut dan patok. Bersama istri dan buruh dia terjun ke laut menanam, merawat, dan memanen rumput laut jenis katoni (Kappaphycus alvarezii) dan sakul (Eucheuma spinosum) itu. Dia sudah sekali panen dengan hasil Rp 3,3 juta.

Ketika ditanya apa artinya nilai itu dibandingkan pendapatannya dari pariwisata, Sulitra menjawab dengan tertawa, "Jauh, Pak. Jauuuh..."

Dia mengaku tetap berharap pariwisata akan kembali pulih di Bali.

"Kalau disuruh memilih antara pariwisata dan rumput laut, saya lebih memilih pariwisata, tetapi rumput laut juga jangan ditinggalkan. Karena kalau hanya mengandalkan pariwisata, sangat riskan terhadap ekonomi," lanjutnya.

Kembali andalkan rumput laut 

Berbeda dengan I Nyoman Sulitra yang baru berkecimpung lagi dalam budidaya rumput laut, Made Suarbawa justru tekun mengembangkan rumput laut di Nusa Lembongan sejak 2000-an awal.

Bahkan, alumni Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali ini mengajarkan tentang cara bertani rumput laut ke Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, hingga Papua.

Sebelum pandemi melanda, dia bisa mendapatkan sekitar Rp35 juta dari menjual bibit rumput laut. Itu belum termasuk hasil penjualan rumput laut kering, sekitar Rp3 hingga Rp5 juta per bulan.

Namun, Suarbawa berinvestasi pada waktu yang tidak tepat. Tergiur oleh keuntungan sektor pariwisata, dia membangun vila dan kolam renang untuk disewakan. Modal sebesar Rp800 juta dia peroleh dari hasil jual aset dan berutang.

Belum sempat balik modal, pandemi muncul.

"Saya bercerita kepada istri, 'kok bisa ya kita bodoh seperti ini?' Karena uang saya habis untuk itu, kolaps, sekarang saya nggak punya uang. Tabungan saya sudah habis untuk membangun vila. Saya bersyukur ada rumput laut sehingga bisa beli beras," tutur Made Suarbawa dengan mata berkaca-kaca.

Kini, Suarbawa telah belajar dari pengalamannya dan fokus menekuni komoditas rumput laut.

Dengan dukungan beberapa lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah, Suarbawa melakukan pembibitan dan pengembangan rumput laut. Saat ini dia mengelola 1.700 m2 lahan rumput laut.

"Selama 30 tahun, kami di Lembongan telah diselamatkan rumput laut. Tidak mungkin komoditas yang sudah menyelamatkan kami 30 tahun, kami abaikan begitu saja. Lalu kenapa kami tidak rawat dengan baik untuk keberlangsungan kehidupan kami di Lembongan," pungkas Suarbawa.

(Salman Mardira)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya