KETIKA pariwisata Bali sedang terpuruk akibat pandemi Covid-19, siapa sangka rumput laut bisa menjadi penyelamat perekonomian warga Nusa Lembongan, sebuah pulau sebelah tenggara Denpasar.
Di tengah terik matahari yang menyengat, Luh Widiani menjemur rumput laut. Sambil berjongkok, perempuan berusia 38 tahun itu menaruh rumput laut basah pada terpal lalu membolak-balik sebagian lainnya agar tersebar merata.
Baca juga: Bangga! Bali dan Lombok Jadi Pulau Terbaik Dunia 2020
Bersama suaminya, Widiani membudidayakan rumput laut di teluk yang memisahkan Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, dua pulau di sebelah tenggara Denpasar yang dapat dijangkau menggunakan kapal cepat (speed boat) sekitar 30 menit dari Sanur.
Widiani adalah pekerja vila, suaminya juga bekerja di sektor pariwisata. Namun, tanpa ada turis datang ke Bali akibat pandemi Covid-19, mereka dirumahkan pada Maret lalu.
Baca juga: Termasuk Bali, Ini 20 Tempat Paling Instagramable di Dunia 2020
Sejak akhir Mei, Widiani dan suaminya kembali menggeluti komoditas yang sekian lama mereka tinggalkan.
"Capeknya luar biasa, tetapi keadaan yang memaksa saya begini. Keadaan ekonomi yang membuat saya memilih pekerjaan ini," kata Widiani pada awal September lalu, sambil tetap jongkok dan meratakan rumput laut.
Warga mengambil rumput laut di Nusa Lembongan, Bali (Anton Muhajir/BBC News Indonesia)
Saat masih bekerja di sektor pariwisata, Widiani dan suaminya mendapatkan gaji setidaknya Rp5 juta masing-masing. Kini, mereka berdua mendapat sekitar Rp 4 juta per bulan untuk semua rumput laut yang dikelola.
Jumlah itu lebih kecil. Namun, menurut Widiani, itu tetap lebih baik daripada tidak ada pendapatan sama sekali.
Andalan warga Nusa Lembongan
Rumput laut tadinya merupakan andalan warga Nusa Lembongan untuk keperluan hidup sehari-hari. Namun, seiring dengan melesatnya pariwisata sejak 2008 ketika penyeberangan ke pulau ini semakin sering, warga banyak yang beralih ke turisme.
I Nyoman Sulitra, salah satu perintis pariwisata di Nusa Lembongan, adalah saksinya.
"Mulai 2008 masyarakat lokal membangun vila. Orang-orang Lembongan berduyun-duyun bikin vila. Kalau punya uang, pasti bikin vila," kata Sulitra seperti dilansir dari BBC News Indonesia, Jumat (18/9/2020).
Bangkitnya pariwisata dibarengi dengan kerugian yang diderita petani rumput laut. Hal ini membuat semakin banyak warga yang meninggalkan komoditas tersebut.
"Rumput lautnya murah, harganya sampai Rp3.000-Rp4.000. Kalau dihitung antara pekerjaan dan hasilnya kan tidak match ya. Lebih baik dia lari ke pariwisata mumpung pariwisata berkembang pesat. Mulai itulah pelan-pelan ditinggalkan rumput laut," paparnya.
Pendapatan nol, kembali ke rumput laut
Mantan pembantu juru masak di Bali daratan ini juga yang termasuk pulang ke Nusa Lembongan untuk membuka usaha di bidang pariwisata.
Selain vila yang dikelola bersama keluarganya, Sulitra mengelola restoran dan vila bersama teman karibnya yang kini jadi pemodal.
Warga menjemur rumput laut di Nusa Lembongan, Bali (Anton Muhajir/BBC News Indonesia)
Mengandalkan tamu dari Eropa, terutama Belanda, uang mengalir lancar ke rekening Sulitra dan para pemilik usaha pariwisata lainnya di Nusa Lembongan.
Namun, ketika pandemi Covid-19 menghantam Bali, aliran pendapatan terhenti sama sekali.
Laut yang biasanya riuh dengan para penyelam dan penikmat snorkling, kini hanya berisi tongkang kosong. Restoran dan kafe tiada pengunjung.
Deretan sepeda motor teronggok berdebu di tempat-tempat penyewaan.
"Sekarang penghasilan tidak ada sama sekali. Susah sekarang, Pak. Aduuh. Benar-benar susah," kata Sulitra.
Siang itu dia sekadar memeriksa restoran dan vilanya. Satu staf yang masih masuk baru saja pamit untuk pulang. Tanpa turis sama sekali, tak banyak pekerjaan bisa dilakukan.
Sebagai wakil pemilik sekaligus manajer LGood Villa dan Restaurant, Sulitra sudah merumahkan karyawannya.
Sembilan kamar di vila milik Sulitra yang bertarif paling murah Rp1 juta per malam, kosong tanpa tamu sejak Maret lalu.