Kisah Desa Wisata yang Memasak di Pemandian Air Panas Selama Ratusan Tahun

, Jurnalis
Rabu 09 September 2020 09:54 WIB
Yunomine, desa kecil di Jepang yang punya tradisi memasak dengan air di telaga panas sejak ratusan tahun (Michiyo Nakamoto/BBC News)
Share :

 Air onsen membuat semua makanan terasa lebih lembut, menurut Wada. Selain sayuran dan telur, tahu yang dimasak di air panas telaga juga merupakan makanan favorit warga lokal.

"Kami juga minum air onsen setiap pagi, karena katanya bagus untuk perut," ucap Kuraya. Ketiga perempuan itu meminta saya mencoba kopi yang dibuat dengan air onsen.

Saat ini, warga lokal makin jarang memasak di Yuzutsu karena air panas dari telaga disalurkan langsung lewat pipa ke rumah-rumah. Tapi semua orang pergi ke sana untuk memasak takenoko (tunas bambu) ketika musimnya, kata Yosuke Tamaki, penanggung jawab Ryokan Adumaya.

"Ini disebut kemacetan takenoko," katanya sambil tersenyum.

Pada musim semi, warga akan menggali tunas bambu di bawah tanah, merendamnya di Yuzutsu sebelum berangkat kerja. Ketika mereka pulang pada sore hari, bambu sudah matang dan rasa pahit tunas bambu mentah sudah hilang.

Saya berkunjung saat musim tunas bambu belum tiba.

Akan tetapi, malam itu saya disajikan makan malam mewah di Ryokan Adumaya. Saya menyantap berbagai hidangan yang dimasak dengan air onsen. Jujur, saya hanya merasakan sedikit perbedaan dalam tekstur dan rasanya.

Namun, sup labu kuning memiliki kepedasan yang biasanya tidak dikaitkan dengan sayuran itu dan terasa kurang manis dibandingkan kabocha pada umumnya.

Sajian shabu-shabu daging sapi di atas piring panas yang dibuat dengan air onsen terasa lebih bermineral, meski tidak mengandung rasa sulfur. Meski nasi yang ditanak dengan air onsen rasanya sama dengan nasi biasa, teksturnya lebih legit.

Menurut warga setempat, memasak dengan air onsen tidak secara radikal mengubah rasa makanan, tapi membuat rasanya jadi lebih lembut. Tidak seperti air keran biasa, air panas telaga juga berkhasiat menjaga keempukan daging, walau Anda memasaknya dalam waktu lama.

Air telaga Yunomine memiliki keseimbangan mineral yang pas untuk memasak, kata Tamaki. Jika mengandung terlalu banyak zat besi atau sulfur, mustahil menggunakan air itu untuk memasak, apalagi meminumnya, seperti yang dilakukan warga setempat.

Pada pagi keesokan harinya, saya mendapat pengalaman terbaik dalam kunjungan saya ke desa itu. Saya mencicipi bubur nasi yang disiapkan dengan air onsen di dapur Adumaya.

 

Sagano Bamboo Forest Jepang (Instagram)

Bubur itu sangat legit dan kuning. Ini bertolak belakang dari hidangan yang disajikan untuk makan malam, yang berbau belerang, meski tidak terlalu menyengat.

Butuh sedikit waktu sampai terbiasa pada rasanya, tapi setelah beberapa suap, saya ketagihan. Saya biasanya tidak menikmati bubur nasi, tapi bubur ini cukup enak untuk dimakan tanpa lauk.

Namun, kopi onsen yang direkomendasikan pemilik penginapan adalah yang paling enak. Rasanya lembut dan kaya rasa. Ini mungkin kopi terbaik yang pernah saya rasakan.

Karena begitu enak, saya tidak mau mengencerkan rasanya dengan menambahkan susu.

Saya dengan mudah menghabiskan teko pertama yang mereka sajikan dan tidak bisa menahan keinginan untuk meminta kopi tambahan.

Selain mungkin merupakan telaga tertua di Jepang, Tsuboyu mungkin juga yang terkecil. Gubuk kecil itu terletak tepat di atas sungai dan bisa menampung hanya dua sampai tiga orang.

Karena kepopulerannya, seringkali terbentuk antrean mengular di luar, dan setelah mendapat tiket, tamu hanya boleh berendam di air panas selama 20 menit.

Mungkin ada lebih banyak turis daripada pengembara yang singgah di Yunomine dewasa ini, tapi entah itu dengan mandi atau memasak, Tamaki mengatakan bahwa orang-orang kini datang ke desa kecil ini untuk mengonsumsi onsen, baik 'dari dalam dan dari luar'.

(Salman Mardira)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya