Di sisi lain, Dokter Spesialis Penyakit Menular di Vanderbilt University Medical Center Dr William Schaffner mengatakan bahwa hal ini serupa dengan teori negara yang cenderung berudara panas bebas dari virus corona.
"Jika saya terinfeksi virus corona, pernapasan saya mengandung jumlah mikroskospis dari virus yang hidup di udara lembap," katanya. "Ketika kelembapan udara rendah, lingkaran lembap itu akan menguap dan melayang di udara," tambahnya.
Sementara itu, di wilayah panas virus corona tidak menguap yang membuatnya lebih berat dan gravitasi menariknya ke bumi. Hal ini malah membuat wilayah tersebut punya risiko lebih besar mengandung virus corona.