Lantaran agrowisata ditutup demi mencegah persebaran virus corona. Mau tidak mau, petani harus memutar otak supaya hasil panen kelengkeng tidak sia-sia. Di bawah koordinasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), para petani mulai menjual hasil panen melalui online. Mereka menggunakan aplikasi Facebook, Twitter dan WhatsApp (WA) untuk memasarkan hasil panen.
“Tahun ini jelas berbeda dengan tahun lalu. Dulu pembeli datang sendiri sekalian ingin berwisata. Sekarang harus kerja lebih keras untuk memasarkan hasil panen," tutur Wardoyo.
Wardoyo menambahkan, sudah tiga pekan ini kelengkeng itu dipasarkan secara online. Petani pun tidak merugi, meski objek wisata kebuh buah kelengkeng ditutup untuk pengunjung.
"Alhamdulillah sudah ada pemasukan untuk petani. Tiap hari mereka bisa melayani penjualan kelengkeng itu. Rata-rata pembelinya dari Kecamatan Tangen dan sekitarnya. Satu kg kelengkeng dijual Rp20.000,” terangnya.