Ventilator tentu sudah tidak asing lagi didengar selama pandemi virus corona COVID-19. Banyak pasien yang terinfeksi COVID-19 menggunakan ventilator sebagai alat bantu pernapasannya.
Seperti diketahui, ventilator adalah mesin yang mampu membantu sistem pernapasan. Ventilator juga disebut sebagai mesin pernapasan atau respirator. Mesin-mesin ini sangat sering digunakan di rumah sakit.
Melansir dari IDS Med, Kamis (16/4/2020), ventilator akan mengalirkan oksigen ke paru-paru, menghilangkan karbon dioksida dari tubuh, dan membantu pasien bernafas lebih mudah. Selain itu ventilator dapat membantu orang yang telah kehilangan semua kemampuannya untuk bernapas.
Ventilator sering digunakan untuk jangka pendek, contohnya selama operasi. Ketika seseorang berada di bawah anestesi umum atau selama perawatan untuk penyakit paru-paru serius. Ventilator juga digunakan pada kondisi lain yang memengaruhi pernapasan normal.
Beberapa orang mungkin menderita suatu kondisi perlu menggunakan ventilator dalam jangka waktu yang lama. Bahkan ada pula orang yang menggunakan ventilator selama sisa hidup mereka.
Cara kerja ventilator, menggunakan tekanan untuk meniup udara ke dalam paru-paru. Tekanan ini dikenal sebagai tekanan positif. Seorang pasien biasanya mengeluarkan udara sendiri, tetapi ventilator juga bekerja dengan hal yang sama untuk mereka.
Jumlah oksigen yang diterima pasien dapat dikontrol melalui monitor yang terhubung ke ventilator. Jika kondisi pasien sangat lemah, monitor akan mengatur untuk mengirim alarm ke perawat. Jika sudah seperti ini tandanya perlu ada peningkatan tekanan udara.
Mesin bekerja dengan membawa oksigen ke paru-paru dan mengeluarkan karbon dioksida. Ini memungkinkan pasien yang mengalami kesulitan bernapas untuk menerima oksigen dalam jumlah yang tepat.
Ventilator juga membantu tubuh pasien pulih, karena mampue menghilangkan energi ekstra dari pernapasan yang sulit. Ventilator meniupkan udara ke jalan napas melalui selang pernapasan. Salah satu ujung tabung dimasukkan ke tenggorokan pasien dan ujung lainnya melekat pada ventilator.
Tabung pernapasan berfungsi sebagai jalan napas dengan membiarkan udara dan oksigen dari ventilator mengalir ke paru-paru. Tapi semua tergantung pada kondisi medis pasien, mereka mungkin dapat menggunakan masker pernapasan sebagai pengganti tabung pernapasan.
Penggunaan ventilator tergantung pada tingkat keparahan penyakit pasien. Dengan ventilator beberapa orang dapat melanjutkan kegiatan rutin, seperti membaca atau menonton televisi. Tapi pasien dengan kondisi lain tidak boleh lepas dari tabung pernapasan mereka.
Pasien atau perawat juga perlu belajar bagaimana cara merawat ventilator. Tujuannya untuk mencegah lendir yang menyumbat tabung. Ventilator biasanya tidak menimbulkan rasa sakit.
Tabung pernapasan di saluran napas pasien dapat menyebabkan beberapa ketidaknyamanan. Salah satu hal yang paling membuat stres ketika menggunakan ventilator adalah pasien tidak dapat berbicara dan makan.
Sebagai pengganti makanan, tim perawat dapat memberikan nutrisi melalui infus yang dimasukkan ke dalam vena. Jika pasien menggunakan ventilator untuk waktu yang lama, pasien mungkin akan mendapatkan makanan melalui nasogastrik, atau tabung makanan.
Ventilator sangat membatasi aktivitas serta membatasi pergerakan pasien. Mereka mungkin bisa duduk di tempat tidur atau kursi. Selain itu mereka juga tidak bisa banyak bergerak.
Untungnya ventilator tidak menyebabkan rasa sakit pada pasien. Tapi, ada waktu transisi di mana pasien mungkin mengalami ketidaknyamanan saat mereka sudah terbiasa dengan perangkat.
Setelah kondisi pasien membaik, biasanya ada periode penyapihan untuk membuat orang terbiasa bernapas sendiri sebelum melepas ventilator.
(Helmi Ade Saputra)