Rumah sakit itu pun harus memiliki kapasitas menjadi rujukan nasional sekaligus bisa menjadi lembaga pendidikan dan pelatihan. Hingga akhirnya lahirlah RSPI Sulianti Saroso. RSPI Sulianti Saroso Jakarta dibangun di atas lahan seluas 3,5 hektare milik Pemprov DKI.
RSPI diresmikan pada 1995 dengan menyematkan nama Profesor Dr. Sulianti Saroso, dokter pejuang, pakar epidemiologi, inisiator program Keluarga Berencana (KB), yang berjuang sejak masa kemerdekaan hingga akhir hayatnya pada 1991.
RSPI Sulianti Saroso dikelola langsung di bawah Kementerian Kesehatan. Sebagai rumah sakit pusat, levelnya sejajar dengan Rumah Sakit Pusat Jantung Harapan Kita, RS Pusat Kanker Dharmais, dan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional.
Keberadaan RSPI Sulianti Saroso Jakarta cepat dikenal oleh publik karena ia menjadi rujukan utama bagi penyandang HIV/AIDS. Pada dekade berikutnya, rumah sakit ini berada di garis depan di tengah ancaman wabah flu burung, flu babi, SARS, MERS, dan kini virus korona/COVID-19. Demikian diwarta Okezone dari Solopos.
(Dewi Kurniasari)