Napak Tilas RSPI Sulianti Saroso, Rumah Sakit Tempat Isolasi Korona COVID-19

, Jurnalis
Kamis 12 Maret 2020 16:15 WIB
RSPI Sulianti Saroso. (Foto: Dimas/Okezone)
Share :

RUMAH Sakit Pusat Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso menjadi salah satu tempat rujukan pasien positif virus korona/Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Jangan hanya sekadar ingin tahu kondisi terkini pasien positif COVID-19, namun juga sejarah rumah sakit tersebut patut diketahui.

Ada cerita panjang di balik lahirnya RSPI Sulianti Saroso Jakarta. Rumah sakit itu memang baru berdiri pada 1995. Namun jejaknya membentang ratusan tahun khususnya di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Di pengujung abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda menggunakan Pulau Onrust sebagai tempat karantina penyakit menular. Ada barak-barak besar sebagai Sanatorium TBC dan karantina pengidap penyakit menular lainnya bagi warga Kota Batavia dan sekitarnya.

Beberapa pasien yang meninggal dan tak diurus keluarganya dimakamkan di sana. Nisan-nisan tua dan berlumut, tanpa nama, yang berjajar di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, menjadi saksi tentang risiko infeksi kuman penyakit.

Awalnya, Pulau Onrust tumbuh menjadi serambi depan Kota Batavia pada abad ke-18. Ada Benteng Bastion yang dilengkapi meriam-meriam besar, dok terapung bagi kapal lintas samudra, gudang, barak prajurit, dan kantor-kantor, masih ada lahan untuk klinik kesehatan.

Para pelaut yang mengidap penyakit menular dikarantina dan dirawat sebelum diizinkan masuk Kota Batavia. Pada era puncaknya, di akhir abad ke-18, Pulau Onrust yang berjarak 15 km dari Pelabuhan Sunda Kelapa itu, pernah dihuni 1.200 pendatang ditambah 300 pekerja pribumi.

Ada serdadu, pekerja galangan, pengurus gudang, petugas pajak, dan ada pula dokter serta perawat. Semua tumplak di tanah seluas 7,5 hektare itu. Air bersih dipasok dari Batavia.

Memasuki abad ke-19, peran Pulau Onrust sebagai serambi Batavia mulai surut. Pemerintah kolonial mencoba membangunnya kembali pada pertengahan abad ke-19. Namun, pamornya tak pernah pulih.

Apalagi, gelombang tsunami yang dipicu letusan Gunung Krakatau 1883 merusak segalanya. Kegiatan bisnis di pulau cantik itu pun ditinggalkan. Semua dialihkan ke pelabuhan baru Tanjung Priok.

Ketika itulah, Pulau Onrust yang berhawa segar dijadikan Sanatorium TBC, sekaligus karantina bagi pengidap penyakit menular lainnya. Antara 1911-1933, Pulau Onrust dijadikan karantina bagi jemaah haji asal Hindia Belanda. Kapasitasnya 3.500 orang.

Semua jemaah wajib menjalani karantina sebelum berangkat dan sepulang mereka dari Mekah. Setelah karantina haji ditutup, Onrust kosong dan merana bak pulau hantu.

Memanfaatkan fasilitas yang tersisa, pemerintah menjadikan Onrust sebagai tempat karantina penyakit menular 1960-1965. Setelahnya, fasilitas digeser ke Pelabuhan Tanjung Priok dan disebut Stasiun Karantina.

Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal RSPI Sulianti Saroso Jakarta. Sepanjang 1965-1970, sekira 2.300 pasien dengan berbagai macam penyakit menular dilayani. Onrust ditinggalkan dan ditetapkan sebagai pulau bersejarah sejak 1972.

Penyakit infeksi tak pernah berhenti menyebar menjadikan stasiun karantina itu ditingkatkan levelnya, menjadi rumah sakit karantina dengan lokasi tetap di Tanjung Priok. Namun, fasilitas itu menjadi tetap kurang memadai saat kuman-kuman lama dan baru terus menghantui kesehatan masyarakat. Berjangkitnya virus baru HIV, penyebab AIDS, pun menghentak dunia sejak 1985.

Peristiwa itu membuat pemerintah mengambil keputusan membangun rumah sakit baru dengan fasilitas modern untuk penanganan penyakit akibat infeksi. Rumah sakit itu tak hanya memberikan layanan medis, melainkan juga melakukan penelitian dan pengembangan terkait pencegahan serta pengendalian penyakit infeksi yang menular.

Rumah sakit itu pun harus memiliki kapasitas menjadi rujukan nasional sekaligus bisa menjadi lembaga pendidikan dan pelatihan. Hingga akhirnya lahirlah RSPI Sulianti Saroso. RSPI Sulianti Saroso Jakarta dibangun di atas lahan seluas 3,5 hektare milik Pemprov DKI.

RSPI diresmikan pada 1995 dengan menyematkan nama Profesor Dr. Sulianti Saroso, dokter pejuang, pakar epidemiologi, inisiator program Keluarga Berencana (KB), yang berjuang sejak masa kemerdekaan hingga akhir hayatnya pada 1991.

RSPI Sulianti Saroso dikelola langsung di bawah Kementerian Kesehatan. Sebagai rumah sakit pusat, levelnya sejajar dengan Rumah Sakit Pusat Jantung Harapan Kita, RS Pusat Kanker Dharmais, dan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional.

Keberadaan RSPI Sulianti Saroso Jakarta cepat dikenal oleh publik karena ia menjadi rujukan utama bagi penyandang HIV/AIDS. Pada dekade berikutnya, rumah sakit ini berada di garis depan di tengah ancaman wabah flu burung, flu babi, SARS, MERS, dan kini virus korona/COVID-19. Demikian diwarta Okezone dari Solopos.

(Dewi Kurniasari)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya