Indonesia menduduki posisi kedua sebagai negara penghasil sampah terbesar di dunia, setelah China. Pada 2019 lalu, total sampah yang dihasilkan Indonesia bahkan menyentuh angka 69 juta ton.
Sebagian besar sampah ini berasal dari sampah rumah tangga hingga kegiatan usaha. Sayangnya, diperkirakan hanya 40 hingga 60 persen yang dapat terangkut ke tempat pembuangan akhir, sisanya, terbuang sembarangan.
Masyarakat yang tinggal di perkotaan dan daerah penyangganya telah menghasilkan sampah lebih besar daripada daerah lainnya.
Untuk menanggulangi isu sampah ini, Public Campaign Specialist WWF-Indonesia, Margareth Meutia mengungkapkan bahwa sejak tahun 2015, pihaknya telah mendorong upaya untuk mengedukasi masyarakat Indonesia melalui beragam program kampanye.
Salah satunya adalah kampanye 'Beli Yang Baik'. Kampanye ini mengajak masyarakat untuk menerapkan gaya konsumsi yang lebih bertanggung jawab dan ramah lingkungan.
Dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, caranya bisa diaplikasikan dengan beberapa langkah yang dijelaskan oleh Margareth saat menghadiri acara SaladStop! belum lama ini.
Beli yang perlu
Masyarakat diminta untuk menghindari keborosan dengan berbelanja hal-hal yang diperlukan saja. Oleh karena itu, sebaiknya Anda membuat daftar belanja keperluan penting untuk mengantisipasi dorongan impulsif membeli barang yang tidak dibutuhkan.
Beli yang lokal
Prioritaskanlah produk lokal yang lebih menguntungkan bagi perekonomian setempat dan bisa memelihara keanekaragaman hayati Indonesia. Cara ini secara tidak langsung juga membantu meningkatkan kesejahteraan para petani lokal.
Beli yang alami
Sebelum membeli produk makanan di supermarket, perhatikan keterangan dan bahan-bahan yang terkandung dalam suatu produk. Utamakan lah produk yang diolah melalui proses alami dan tidak mengandung bahan-bahan kimia buatan.