DIVONIS menderita kanker otak, Agnia Salsabilla (7) mampu melewati ujian berat. Ia ditemani ibunya rutin menjalani sejumlah rangkaian pengobatan medis di rumah sakit.
Agnia divonis menderita kanker otak sejak 2017. Di usianya yang belia, Agnia telah ditinggal sang ayah. Sejak itu, bocah manis itu hanya tinggal bersama sang ibu, kakak dan adiknya.
Sempat terpukul saat mengetahui anak bungsunya menderita penyakit yang berbahaya, ibu Agnia, Ujoh, berupaya keras untuk membiayai pengobatan kanker otak sang anak tercinta.
Menjadi tulang punggung keluarga setelah ditinggal almarhum suaminya, Ujoh berusaha keras menjual kue keliling di sekitar rumahnya yang terletak di Desa Awilega, Koroncong, Pandeglang, Banten.
Tepat Hari Kanker Sedunia, layanan mustahik PPPA Daarul Qur’an terus berupaya memberikan perhatian kepada masyarakat yang membutuhkan, seperti Agnia dan ibunya. Agnia dengan kondisinya sangat lemah, membutuhkan ambulance untuk mengantarnya pulang ke rumah, setelah dirawat di Rumah Sakit Kanker Dharmais.
Ujoh bisa bernapas lega setelah mendapatkan bantuan dari PPPA Daarul Quran, yang telah mengantar putrinya saat berobat dengan ambulance gratis.
"Semoga Daarul Quran dan semakin maju dan berkembang agar bisa banyak membantu orang-orang yang sedang kesulitan dan tidak mampu,” harap Ujoh yang tak kuasa menahan tangis saat menerima bantuan.
Koordinator Layanan Ambulance Abdul Syukur mengatakan, ambulance gratis itu memang sudah sering mengantar dan menjemput penderita kanker, yang tidak memiliki biaya. Baik untuk berobat, maupun menjemput jenazah yang bekerja sama dengan Relawan Peduli Kanker Rumah Sakit Dharmais.
“Kalau di Rumah Sakit Dharmais, kami sudah mengantar dan menjemput lebih dari 100 pasien penderita kanker,” ucap Syukur.
Ambulance itu, sambung Syukur, biasanya juga dipakai untuk membantu masyarakat saat terjadi kecelakaan atau ketika ingin berobat fasilitas kesehatan. Ia pun sangat senang apabila beban masyarakat menjadi ringan ketika sakit, berkat hadirnya ambulance gratis tersebut.
(Dewi Kurniasari)