"Contoh berbicara adat Jawa dan Minang, rangkaian pernikahan biasanya ada pengajian, siraman, malam midodareni, akad, dan resepsi. Bisa pengajian, siraman, dan malam midodareni adat Jawa. Baru akad dan resepsi adat Minang, atau selang-seling, tergantung kesepakatan," kata Hengki.
Cara menyiasatinya juga bisa dari busana atau tema dekorasi. Contoh waktu akad nikah dengan adat Jawa, busana pengantin khususnya pihak perempuan mengenakan atasan kebaya tapi bawahnya kain dari Padang.
Begitu juga saat resepsi, apabila memilih adat Minang, bisa ditambahkan ornamen berupa hiasan ukiran Jawa. "Jadi calon pengantin bisa mix n match dari situ. Kulturasinya tetap ada, percampuran dua kebudayaan bisa dilakukan," pungkas Hengki.
(Martin Bagya Kertiyasa)