Namun, tidak ada alasan khusus akan hal itu. Karena, pada dasarnya Klowor menyukai binatang, apapun itu macamnya.
Kucing dijadikan sebagai objek karya karena memang hewan itulah yang memulai inspirasi pertamanya sebagai seorang seniman. Bagi Klowor, kucing membawa ide yang tiada habis-habisnya untuk dieksplorasi. Terutama dari karakter dan sifat kucing itu sendiri.
"Jadi kucing itu saya gali tidak pernah habis, bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda, saya asik melihat karakternya, tingkah lakunya, kadang garang, kadang lucu, kadang manja. Selama itu masih bisa saya gali, kenapa tidak."
Klowor juga pernah dikritik terjebak dalam satu objek. Hal tersebut menyebabkan terjadinya pengulangan karya secara terus menerus.
Akan tetapi, bagi Klowor, kritikan semacam itu tidaklah menjadi masalah. Bahkan, direspon positif dan nantinya dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk karya kedepannya.
"Siapapun punya statemen, saya menghargai, tapi yang terpenting bagi kita adalah kan evaluasi, bahwa saya harus lebih banyak mengekspose fenomena-fenomena lain seperti Gunung Merapi, bahkan dengan bentuk-bentuk karya yang simpel."
Melukis tidak hanya soal seni dan estetika, tapi terdapat pesan moral yang harus disampaikan, kurang lebih begitulah statement Klowor. Ia hanya ingin menyampaikan bahwa setiap orang harus mampu menghargai makhluk hidup lain. Tentu, hal tersebut tidak terlepas dari berbagai karakter hewan yang menjadi objek lukisnya, terutama karakter kucing yang identik dengannya.
(Dyah Ratna Meta Novia)