“Saya takut sih ini, rasanya kayak mau mati. Kepikiran semuanya, keluarga saya, bokap (ayah), nyokap (ibu), sama satu lagi, cerita Leo di tempat makan. Jangan-jangan saya kena sakit jantung, kanker paru-paru," sambungnya.
Sejak kejadian di KRL itu Abas pun membulatkan tekadnya untuk berhenti merokok. “Enggak pakai cara kurang-kurangin (merokok), tapi benar-benar nol tembakau. Alhamdulillah, sampai hari ini saya sudah berhenti merokok, kurang lebih sudah empat bulan,” tuturnya.
Tentunya usaha Abas untuk nol tembakau juga tidaklah mudah. Ada kesulitan yang sering ia hadapi, salah satunya adalah saat menunggu orang di cafe atau warung kopi. “Biasanya kan saya nunggu sambil merokok. Tiba-tiba kegiatan itu enggak saya lakukan lagi, aneh saja rasanya,” ucapnya.
Pria asal Pekanbaru ini pun memberikan cara efektif untuk menghindari mengulangnya kebiasaan merokok. “Awal-awal jangan ikut nongkrong sama teman perokok, hindari saja, atau minta tolong dukungan teman, kalau mau merokok, jangan depan saya. Untungnya teman saya pada dukung, walaupun mereka perokok berat semua,” pungkas Abas.
(Abu Sahma Pane)