Diketahui sekira 600.000 dokter tak bersertifikasi melakukan praktik ilegal di seluruh Pakistan. Jadi, banyak rumah sakit dokter menjalankan praktik secara tidak etis. Mereka abai pada kesejahteraan pasien.
"Mereka memberi injeksi, bahkan ketika tidak dibutuhkan. Ini untuk pemecahan instan. Lebih banyak injeksi, lebih besar risiko penyebab infeksi. Fakta penggunaan jarum suntuk berulang pun menjadi kekhawatiran terbesar," tambahnya.
Tidak beraninya pasien HIV positif melakukan tes lebih lanjut menjadi hal yang memperburuk kondisi. Masyarakat yang tidak suportif pun menjadi alasan mereka menutupi status kesehatannya itu.
Namun, dr Mir berharap bahwa kasus HIV positif anak di Ratodero bisa menjadi pengingat sekaligus upaya kesadaran masyarakat akan bahaya HIV.
"Diam atau menyembunyikan status HIV tidak akan menghilangkan penyakit itu sendiri. Malah, dengan tidak memberitahu akan membuat penyakit ini semakin mewabah dan lebih kuat," tegasnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)