Pria berusia 22 tahun itu menceritakan perjuangannya hingga bisa kuliah dengan nilai memuaskan. Bramastio mengakui jika pada awalnya ia sempat merasa terpuruk setelah mendengar ucapan gurunya. Tapi, meskipun merasa sakit hati, dirinya ingin membuktikan dirinya bisa masuk perguruan tinggi negeri (PTN), tidak seperti yang gurunya ucapkan.
“Saya akhirnya mengambil les dekat rumah, bahkan langsung ambil kelas SBMPTN. Tapi syukur saya mendapat jalur undangan,” kata Bramastio.
Tak puas hanya sekadar mendapat kesempatan lewat jalur undangan,ia juga menyusun strategi agar bisa lolos seleksi. Akhirnya, Bramastio memutuskan mengambil jurusan yang disukainya tetapi belum banyak diketahui oleh orang lain. Jurusan Manajemen Komunikasi menjadi pilihannya. Strategi itu ternyata berhasil dan dirinya diterima menjadi salah satu mahasiswa PTN di Bandung, Jawa Barat pada tahun 2015.
Selama kuliah, Bramastio mengakui bila dirinya senang bermain bersama teman. Akan tetapi, dia tidak pernah lupa dengan kewajibannya untuk menyelesaikan pendidikan. Sambil bermain, ia mengurbankan waktu tidurnya untuk memaksimalkan kuliah, organisasi, dan kerja freelance.
“Syukurnya semua kerja keras itu terbayar. Orangtua saya juga support banget untuk semua hal yang saya lakuin semacam fotografi, musik, sama grafis desain untuk freelance. Padahal itu enggak ada hubungannya dengan jurusan kuliah,” ucap Bramastio.