Meskipun batik telah diakui oleh UNESCO sebagai Karya Agung Budaya Lisan dan Tak Benda Warisan Manusia, masyarakat Indonesia tetap harus melestarikannya. Salah satu caranya adalah mengenalkan batik kepada anak-anak sejak dini. Anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang nantinya memiliki tanggung jawab untuk melestarikan batik.
Mengenalkan batik kepada anak-anak sedari dini dapat menumbuhkan rasa cinta dan kepemilikan. Saat tumbuh dewasa, hal itu dapat membuat mereka merasa berkewajiban melestarikan batik. Cara itu pula yang diterapkan oleh presenter Novita Angie terhadap kedua anaknya.
Ditemui Okezone dalam sebuah acara, Rabu (2/10/2019), perempuan berusia 43 tahun itu mengatakan telah membiasakan anak-anaknya memakai batik sejak kecil. Ia memang sengaja membelikan baju bermotif batik.
“Anak-anak saya pakai batik seperti pakai baju motif lain saja, kayak motif polkadot, bunga, atau kotak-kotak, lalu motif batik. Jadi mereka senang-senang saja pakai batik, tidak masalah,” tutur perempuan yang akrab disapa Angie itu.
Dalam mengenalkan batik kepada kedua anaknya, Angie merasa terbantu dengan desain dan motif batik yang sekarang ini lebih modern. Dirinya menjadi lebih leluasa untuk memilih batik yang hendak dikenakan kepada anak-anaknya. Namun ia memang memiliki siasat tersendiri.
“Saya pilih batik yang memang warnanya mencerminkan anak-anak. Pilihnya bukan warna coklat karena mereka mungkin merasa itu tua. Jadi batiknya berwarna cerah, kayak pink atau biru yang warnanya anak-anak banget biar mereka merasa batik adalah pakaian sehari-hari,” ungkap Angie.
Pilihan Angie untuk membiasakan anak-anaknya sejak kecil memakai berbuah manis. Kedua anaknya tidak pernah merasa batik adalah pakaian yang kuno. Bahkan anak perempuannya sering kali ingin memakai batik yang model dan motifnya sama.
“Kalau saya punya batik yang menurutnya bagus tapi dia enggak punya, dia protes mau juga. Jadinya kita sering berburu batik bersama, atau kalau enggak custom ke desainer,” ujar Angie.
Sementara itu, di Hari Batik Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober, Angie memaknainya secara khusus.
“Bagi saya, ini adalah momentum untuk mengingatkan kita sebagai bangsa Indonesia kalau kita punya kekayaan budaya yang keren banget. Selain itu, bisa juga sebagai pengingat bahwa selain batik masih ada budaya lain yang harus dilestarikan juga, seperti songket, ulos, dan tenun. Jangan sampai nanti budaya itu diakui oleh negara lain, kita harus bangga dan pakai kebudayaan itu karena merupakan kekayaan bangsa,” pungkas Angie.
(Utami Evi Riyani)