Ingin memiliki momongan adalah harapan banyak orangtua. Namun, perencanaan yang matang harus menjadi prioritas. Sebab, jika tidak memerhatikan jarak kelahiran yang aman antara anak pertama dan kedua bisa berdampak negatif, termasuk mengalami autis.
Seperti yang disampaikan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo. Dia mengimbau untuk memerhatikan jarak kelahiran anak yang aman. Hasto mengatakan, punya keturunan yang usianya tak jauh berbeda dalam beberapa penelitian disebutkan dapat meningkatkan risiko anak lahir autis.
Gambaran sederhananya seperti ini, anak pertama masih berusia satu tahun, lalu anak kedua hadir. Si anak pertama atau kakak belum maksimal pertumbuhannya dan orangtua sudah mesti mengurus anak kedua, ini akan memberi dampak pada sang adik.
"Jadi, berdasarkan penelitian, kasus autis anak kedua tinggi pada orangtua yang kehamilannya berdekatan dengan sebelumnya," kata Hasto dalam kunjungannya ke Puskesmas Sambungmacan 2, Sragen, Jawa Tengah, Selasa (17/9/2019).
"Secara explicited di Alquran dijelaskan batas memiliki anak berikutnya itu 30 bulan. Sedangkan, WHO memberi batas 33 bulan. Lantas, BKKBN bagaimana? Kalau orangtua itu bisa menekan kehamilan di antara 30-33 bulan, kami sudah sangat senang," jelasnya.
Selain risiko autis, usia anak berdekatan karena tidak memerhatikan jarak kelahiran juga bisa berisiko gangguan mental emosional. Jadi, si anak akan sangat moody dan jika ini sudah memengaruhi keseharian, tentu penanganan yang serius mesti dilakukan. Sebab, jika dibiarkan akan memberi dampak buruk di kemudian hari.