Karena cerita lama itu, masyarakat pun mempercayai sampai menjadikan kegiatan tersebut menjadi tradisi kekal. Dalam tradisinya, proses lamarannya terbagi beberapa hal.
Prosesi yang tak pernah dilewatkan yakni njaluk (minta), ganjur (melamar), milih dino (memilih tanggal pernikahan), sampai mengikat calon suami sampai pernikahan berlangsung nanti.
"Biasanya orangtua pihak perempuan meminta kepada laki-laki untuk menjadi menantunya. Setelah itu, mereka melakukan ganjuran (lamaran) ke pihak pria, lalu pihak pria membalas ganjuran itu selang beberapa hari," terang Luluk.
Ketika semua sudah saling setuju, baru kedua keluarga menentukan tanggal yang baik sebagai hari pernikahannya. Sebagian masyarakat di sana masih menjalani tradisi unik ini, walau telah diwarnai oleh modernisasi.
Positifnya dalam menjalani tradisi ini terdapat nilai sosial yang tinggi. Keluarga perempuan dianggap sangat menghargai calon besan serta calon menantunya, sebelum nantinya mengarungi bahtera rumah tangga.
Pada dasarnya perempuan yang menikah kelak harus tunduk dan hormat kepada suaminya. Dari proses melamar saja, masyarakat Lamongan sudah mulai menerapkan.
Selain silaturahmi, keluarga perempuan membawa seserahan, baik itu dalam bentuk makanan atau barang. Tapi biasanya diikat oleh cincin yang sangat berharga. Setelah diterima, dalam pernikahan nanti keluarga lelaki wajib memberikan mahar yang nilainya lebih besar.
”Mahar yang lebih besar tersebut sebagai tanda bahwa calon kepala keluarga, haruslah mapan dan memiliki derajat lebih tinggi dari istrinya. Oleh karena itu, mereka menunjukkannya dari mahar yang diberikan kepada calon istrinya,” jelas dia.
(Martin Bagya Kertiyasa)