Organ tersebut diterbangkan sejauh 5 km dalam waktu 10 menit dari Baltimore ke St Agnes Hospital, dilanjutkan ke rumah sakit Maryland. Biasanya perjalanan itu membutuhkan waktu 15-20 menit menggunakan mobil, tergantung kemacetan. Uji coba pengiriman lewat drone tersebut sudah mendapat lampu hijau dari FAA.
Belakangan, FAA memang melunak. Sebelumnya mereka sangat ketat terhadap peraturan yang membatasi pehobi. Harga drone yang kian terjangkau membuat setiap orang bisa menerbangkan drone dan dianggap mengganggu.
Secara total, ada 290.000 drone yang terdaftar untuk penggunaan komersial, seperti pemetaan kebakaran hutan, agrikultur, memantau cuaca, manajemen bencana, penegakan hukum, telekomunikasi, dan fotografi real estat.
Tim Maryland bersama engineer saat ini berusaha mendesain sistem drone mereka sendiri untuk lebih mudah mengirimkan organ tubuh. “Harus sesuai standar FAA. Tapi memiliki kapasitas untuk mengangkut organ, kamera, trek sistem organ, komunikasi dan sistem keselamatan di kawasan padat penduduk, juga mampu menempuh jarak lebih jauh dan lebih durable ,” ujar Matthew Scassero, Direktur UAS Test Site di Universitas Maryland. Drone dianggap bisa meng hindari delay penerbangan pesawat, kemacetan, bahkan cuaca buruk. Drone dipercaya mampu memangkas waktu tempuh 70% lebih cepat.
(Dinno Baskoro)