Kedua, mati syahid dunia. Dikisahkan saat Perang Uhud seseorang yang berjuang di jalan Allah namun tidak meniatkan diri untuk mati syahid. Peperangan diniatkannya untuk memperoleh harta rampasan perang atau gonimah. Hal itu terjadi ketika pemanah muslim yang berada di atas gunung melihat orang kafir gugur lantas berkeinginan untuk memperoleh harta orang kafir itu.
“Padahal sesungguhnya itu merupakan siasat orang kafir untuk membunuh para pemanah Muslim. Karena masuk perangkap, pemanah Muslim gugur, itu merupakan mati syahid dunia,” lanjutnya.
Ketiga, mati syahid akhirat atau seseorang yang memperoleh pahala mati syahid seperti orang yang meninggal karena wabah penyakit, musibah yang berat, atau seorang ibu yang meninggal karena melahirkan anaknya.
Menurutnya, para korban tewas di Selandia Baru merupakan mati syahid akhirat karena sedang melaksanakan ibadah lantas terbunuh. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri, dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka terbunuh atau membunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Alquran.” (Q.S At Taubah : 111)
Hal itu merupakan ayat yang memberikan motivasi atau semangat juang para Muslim untuk berjuang di jalan Allah meski harus gugur dalam medan perang. Turunnya ayat itu ketika seorang sahabat hendak makan lalu terdengar suara panggilan jihad fi sabilillah. Ia yang sedang hendak makan menyadari bahwa makanan itulah yang akan menghalanginya masuk ke dalam surga. Ia menaruh makanannya lalu turun ke medan perang dan ia gugur.