BRG sendiri kini telah memiliki 773 anggota kelompok perempuan. Jumlah tersebut diharapkan dapat meningkat. Selain pertanian, kelompok perempuan ini juga diberi keterampilan untuk meningkatkan nilai tambah/jual pada produk kerajinan anyaman yang dibuat dari rumput atau tanaman yang banyak tumbuh di lahan gambut. Para perempuan ini telah mampu membuat anyaman menjadi tas, topi, placemats, keranjang, tikar dan dompet yang siap dipasarkan.
“BRG menyadari pentingnya peran para perempuan dalam menjaga ekosistem gambut. Kami percaya bahwa jika perempuan diberdayakan, maka akan dapat mendorong perubahan besar dalam sikap dan perilaku melindungi,” kata Myrna A. Safitri, Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG.
"Kita tidak dapat bicara tentang ketahanan pangan, tentang generasi emas jika soal pemenuhan nutrisi di tingkat keluarga diabaikan. Perempuan-perempuan kader sekolah lapang di lahan gambut menunjukkan bagaimana mereka berjuang untuk itu. Larangan pembakaran dalam pertanian gambut dijawab dengan solusi PLTB yang berbasis pada kebutuhan nutrisi keluarga“, tambah Myrna.
Meskipun perempuan memiliki akses yang terbatas dibandingkan laki-laki ke sumber daya seperti tanah, kredit, input dan layanan; data dari FAO menyebutkan bahwa perempuan berperan dalam menghasilkan 60% hingga 80% makanan di negara-negara berkembang. Perempuan memiliki pengetahuan dan keterampilan tradisional, terutama untuk mengelola sumber daya alam dan air dan di berbagai bidang seperti inovasi, pertanian, makanan, limbah, dan energi.
(Utami Evi Riyani)