Mereka juga lebih sedikit uang, dan lebih sedikit kebebasan sehingga pada saat-saat kehilangan yang ekstrem seperti bencana alam, perempuan sering menjadi pihak yang terpukul paling keras. Meskipun perempuan paling merasakan efek dari perubahan iklim, mereka memiliki peluang besar untuk berkontribusi melawan perubahan iklim .
Theti kemudian bergabung dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) setelah kebakaran besar melanda. Hatinya terketuk akan bahaya pembakaran lahan ini, sehingga memutuskan ikut mengambil peran dalam menjaga lahan gambut ini.
Sebelum menjadi petani binaan dari BRG, Theti mengelola lahan kecil tempat ia menanam padi. Setiap tahun, ia bisa panen 30 karung beras. Hasil ini diakuinya hanya cukup untuk makan saja selama setahun.
Baca Juga: Tak Ada yang Mustahil, Kisah Kacey McCallister, Diamputasi Tapi Sukses Jadi Atlet dan Motivator
Untuk lauk dan kebutuhan lainnya, ia harus bekerja serabutan seperti menyadap karet dan mencari ikan. Hasil kerja serabutan ini juga terhitung lebih melelahkan dengan hasil yang tidak menentu.