Meneruskan usaha keluarga
Sebagai anak pertama, Yilun dipercaya untuk meneruskan usaha milik keluarga. Terlebih ketika ayahanda tercinta menghembuskan napas terakhir pada 2004 silam. Beliau meninggal setelah mengalami pendarahan hebat di otak.
“Sebelum meninggal, ayah saya kalap makan tongseng. Kolesterol beliau tiba-tiba naik. Ia mengeluh pusing dan susah tidur. Tapi beliau malah pukul-pukul nyamuk menggunakan kayu hingga terjatuh, dan kepalanya membentur lantai,” ungkapnya.
Berbekal ilmu yang ia dapatkan saat masih bekerja di sebuah perusahaan, Yilun pun mulai mendalami bisnis kopi yang telah dirintis oleh mendiang ayahnya. Ada dua jenis kopi yang menjadi produk andalan di Toko Kopi Luwak, yakni kopi robusta dari Lampung dan Sumatera Utara, dan kopi arabika yang dipasok langsung dari Tana Toraja. Varietasnya pun terbilang lengkap disesuaikan dengan kebutuhan para pelanggan.
Di bagian depan toko, berjejer tiga toples kaca berukuran besar. Toples ini berisi kopi robusta kualitas terbaik. Di sisi kiri, tiga toples berukuran sedang juga tampak menghiasi toko. Meski bentuknya sudah usang, toples tersebut digunakan untuk menyimpan campuran biji kopi robusta dan jagung.
Sementara untuk biji kopi arabika, Yilun sengaja meletakkan di balik singgasananya (meja membaca) karena jenis kopi inilah yang paling laris dijual. Harganya pun relatif lebih mahal dibanding kopi robusta yakni, Rp160 ribu per kg.